Di dalam kehidupan ada banyak orang yang lugu dan baik hati.
Namun pada umumnya seiring dengan standard moralitas umat manusia yang kian
merosot, manusia kadang kala bisa beranggapan bahwa orang yang baik hati itu
sangat tolol dan bodoh.
Sesungguhnya baik hati adalah etika moralitas yang paling
tinggi di antara karakter manusia, orang yang berbuat banyak kebajikan, patut
dikagumi. Jikalau seseorang memiliki hati yang baik, barulah bisa
menyempurnakan kehidupannya sendiri.
Seseorang tidak serta-merta rugi sesuatu hanya dikarenakan
kebaikan hati dan perbuatan baiknya sendiri, malah sebaliknya ia akan
memperoleh imbalan rejeki berkat akumulasi berkahnya. Meskipun pada hal-hal
sepele di dalam kehidupan sehari-hari, orang yang baik hati juga bisa merasa
gembira atas suka cita orang lain, merasa bahagia atas kebahagiaan orang lain,
pada setiap saat tidak akan bergendang paha dan merugikan orang lain demi
keuntungan pribadi.
Insan yang bermoral jiwanya bertalian dengan Tuhan, di kala
marabahaya senantiasa hanya keterkejutan yang dialami tapi tidak sampai
membahayakan, memperoleh kemujuran dikala bencana, menjumpai kesulitan akan
beralih menjadi suka-cita. Di tengah kehendak takdir, Tuhan melindungi orang
yang baik hati.
Semua orang yang berkhianat dan licik di dalam masyarakat,
seperti Hitler, Qin Hui (disebut juga Qin Kuai, Perdana Menteri licik semasa
pemerintahan Dinasti Song, Tiongkok) dan sebangsanya, walau merasa diri sendiri
pandai, toh akhirnya tak mampu mengandalkan pengkianatan dan kelicikannya untuk
merubah nasib mereka yang berkesudahan dengan memalukan.
Suatu hari dalam perang dunia ke-II, panglima tertinggi pasukan
sekutu di Eropa, Eisenhower di suatu tempat di Perancis berkendaraan pulang
menuju pusat komando untuk mengikuti rapat dadakan kemiliteran.
Pada hari tersebut turun hujan salju dengan deras, udara terasa
sangat dingin, mobil melaju seperti barisan tamu sepanjang jalan. Tiba-tiba ia
melihat sepasang suami istri Perancis duduk di pinggir jalan dan menggigil
kedinginan. Ia segera memerintahkan penterjemah di sebelahnya untuk turun
menanyakan keadaan mereka.
Seorang penasehat dengan sigap mengingatkannya: “Kita harus
tiba di rapat pusat komando dengan tepat waktu, persoalan semacam ini sebaiknya
diserahkan kepada pihak kepolisian setempat.”
Akan tetapi Eisenhower bersikukuh: “Apabila menunggu pihak
polisi datang, sepasang suami istri tua ini barangkali sudah mati kedinginan!”
Melalui tanya jawab baru diketahui bahwa sepasang orangtua tersebut sedang
dalam perjalanan mengungsi ke Paris ke rumah anaknya, tetapi mobilnya malah
mogok di tengah jalan.
Di tempat itu selain jauh dari desa juga tak nampak adanya
pertokoan, maka tak tahu bagaimana baiknya. Sesudah mendengar penuturan mereka
Eisenhower segera meminta mereka menaiki kendaraan, malahan dengan khusus
mengantar si pasangan tua tersebut ke Paris. Setelah itu barulah mereka menuju
ke pusat komando.
Tidak pernah terpikir dalam benak Eisenhower melakukan
kebajikan tersebut dengan pamrih. Akan tetapi, kebaikannya ternyata telah
memperoleh imbalan yang tak terbayangkan.
Ternyata pada hari itu tentara Penyergap Nazi-Jerman sudah
sejak pagi mengintai di dekat jalan yang harus dilalui oleh mereka, tinggal
menunggu momentum di mana mobilnya melintas maka dengan segera akan dilakukan
pembunuhan rahasia.
Andaikata bukan demi membantu pasangan suami istri tua tersebtu
lalu merubah jalur perjalanan mereka, kemungkinan besar akan sangat sulit
terhindar dari mala petaka tersebut. Jikalau Eisenhower mengalami penyergapan
dan gugur, maka sejarah perang dunia ke-2 sangat mungkin akan ditulis
ulang.
Apakah yang paling berharga di dalam kehidupan manusia? Yu Guo
menjawab dengan bijak : “baik hati”. “Baik hati adalah mutiara langka di dalam
sejarah, orang yang baik hati hampir boleh dikatakan lebih unggul daripada tokoh
besar.” Penulis Amerika Mark Twain menyebutkan baik hati adalah semacam bahasa
lintas global, ia bisa membuat orang buta “melek” dan orang tuli “mendengar”.
Hati yang bajik berkilauan bagaikan emas murni, bersih dan
kemilau bagaikan sari embun. Hati yang bajik pasti luas dan lapang, mampu
mewadahi seluruh maKhluk alam semesta, dan menciptakan kesejahteraan bagi
kehidupan umat manusia. Orang yang berbuat kebaikan tanpa pamrih acap kali bisa
memperoleh imbalan tak terduga, ini merupakan kodrat alami dari sebab-akibat
yang gilir berputar.
Manusia yang baik hati seringkali membahagiakan orang lain,
yang sesungguhnya juga membawa rezeki bagi dirinya sendiri. “Membantu orang
lain, sama dengan membantu diri sendiri.” Perkataan ini mutlak bukan hanya
berupa imbalan sebab akibat yang sederhana, melainkan adalah hal pokok menjadi
seorang manusia.
Biarkanlah kebajikan eksis bersamaan dengan jiwa, ini merupakan
berkah besar bagi manusia. Asalkan terdapat kebajikan di dalam jiwa, tentu
keceriaan akan sering hadir dalam kehidupan; asalkan terdapat kebajikan di
dalam jiwa, kebahagiaan akan senantiasa mendampingi kehidupan seseorang; dengan
adanya kebajikan di dalam kehidupan, barulah jiwa bisa membubung dengan tiada
henti.
Baik hati adalah emas di dalam kehidupan, baik hati adalah sinar kehidupan
yang paling mulia di dalam karakter manusia.