Translate

Senin, 19 Maret 2012

Menjadi Diri Sendiri

to be yourselft
Kita mendatangkan kepada diri sendiri begitu banyak ketidakbahagiaan dengan berusaha menyesuaikan diri dengan pola yang tidak sesuai dengan diri kita.

Anda mungkin begitu mengagumi sepasang sepatu sehingga anda bersikeras untuk memakainya walaupun sepatu itu tidak cocok ukurannya. Kalau ini persoalannya, mengapa Anda harus memakainya?

Tidak peduli sebesar apapun kekaguman kita kepada seseorang, kita bukan orang itu dan tidak bisa menjadi orang itu. Semakin kita berusaha menyesuaikan diri dengan pola perilaku orang lain, akan semakin bingung dan kacaulah diri kita. Bahkan lebih buruk lagi, kita kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri karena selalu kita akan cenderung menyepelekan diri kita dan terlalu memandang tinggi orang lain.

Orang yang paling sengsara adalah mereka yang menginginkan dirinya orang lain. Angan-angan ini menyebabkan orang terus-menerus berpura-pura menjadi sesuatu yang sebenarnya bukan. Itu salah satu penyebab utama stress.

Kalau anda hidup dalam kebohongan, anda tidak akan tahu kapan anda akan ketahuan, walaupun hanya oleh diri anda sendiri. Berusaha memanfaatkan secara maksimal bakat-bakat yang anda miliki dan bukannya iri kepada bakat orang lain adalah yang anda perlukan untuk mencapai sukses.
Camkan dalam pikiran anda, bahwa anda memiliki ciri khas yang unik yang tidak dimiliki orang lain. Jadi, kenapa anda harus menjadi orang lain.. Jadilah diri anda sendiri.. dan buatlah perbedaan dan pertahankan itu.

Jangan berkaca pada hasil yang telah dicapai oleh orang lain. Berkacalah pada diri sendiri. Anda adalah pribadi yang unik. Tak satu orang pun dapat menyamai anda. Dalam diri anda terdapat keistimewaan yang tak dimiliki oleh orang lain. Begitu pula, orang lain mempunyai keistimewaannya sendiri yang tak ada pada anda.

Jadi, mengapa harus terpaku pada pencapaian orang lain? Alam menciptakan perbedaan. Karena itu kita dapat melihat keindahan. Tugas kita adalah menemukan keunggulan yang ada dalam diri sendiri dan mempersembahkannya pada alam. Itulah keberhasilan yang hakiki.

Seorang pemenang sejati berusaha memperbaiki catatannya sendiri ketimbang berambisi mengalahkan orang lain.

Tingkat Kebahagiaan



Jiwa adalah harta termahal. Kesucian jiwa menyebabkan kejernihan diri, lahir dan batin. Itulah kekyaan sejati. Banyak orang kaya harta, tapi mukanya muram. Banyak orang yang miskin uang, tapi wajahnya berseri. Kebahagiaan memang bukan ditentukan oleh harta, tapi oleh jiwa yang ada dalam diri. Kebahagiaan yang datang dari luar kerapkali hampa, palsu. Orang yang mengalami kondisi itu kerap kali ragu, syak, cemburu, putus harapan. Sangat gembira jika dihujani rahmat, lupa bahwa hidup ini berputar putar. Sangat kecewa jika ditimpa bahaya. Lupa bahwa kesenangan terletak di antara dua kesusahan dan kesusahan terletak di antara dua kesenangan. Ia juga lupa dalam senang itu tersimpan kesusahan dan dalam kesusahan telah ada unsure kesenangan.

Bertambah banyak kesenangan dan kebahagiaan yang datang dari luar diri, bertambah miskinlah orang yang diperdayakannya. Ketika memperoleh pendapatan kecil, keperluan untuk menjaga yang kecil itu, juga kecil. Setelah besar, bernangsur besar juga keperluannya. Bertambah luas, bertambah luas pula penjagaan yang diperlukan. Karena itu, banyak orang kaya secara lahir, miskin pada hakikatnya, Di sini nyatalah arti kekayaan dan kemiskinan. Orang yang paling kaya, ialah yang paling sedikit keperluannya. Dan orang yang paling miskin ialah yang paling banyak keperluannya. Kalau bahagia adalah barang yang datang dari luar, tak satupun makhluk yang kaya. Semuanya miskin belaka. Yang kaya hanya Allah Tuhan Semesta alam. Apakah kita silau melihat seorang penguasa dan pengawalnya yang banyak, pendukungnya yang banyak, istananya yang megah, harta bendanya yang mewah, penjagaan yang dilakukan oleh para pendukung penguasa itu, mobil dan kendaraan yang bisa dipakai. Orang-orang kaya itu meskipun berpangkat dan kaya harta, boleh jadi menanggung kesengsaraan batin yang tiada terkira. Harta benda yang mahal harganya itu meski berharga, lama-lama dipandang sebagai pasir karena ia sudah sering menggunakannya dan membosankan. Itulah sebabnya banyak orang kaya yang mencari kebahagiaan hidup di pedesaan atau menyendiri. Bahkan ada juga yang ingin lekas mati untuk menemui nikmat yang abadi. Hidup kita hanyalah pertempuran dan perjuangan.

Dinamakan manusia, adalah karena ia tidak akan sunyi dari kelemahan dan kesalahan. Jika sejak lahir sampai masuk kubur, kita suci, bebas dari salah dan alpa, tentu tidak layak kita jadi manusia. Sebab yang seperti itu adalah tabiat malaikat. Kita, manusia, pasti merasakan nikmatnya istirahat sesudah lelah bekerja. Kita juga pasti meraasakan kelezatan menghadap Tuhan kelak di akhirat sehabis bertempur dengan ranjau-ranjau hidup sepanjang usia kita. Orang yang takut menghadapi hidup, tidak akan berani menggosok dan mensucikan batinnya. Ia juga tidak akan merasakan arti kelezatan dan kebahagiaan hakiki. Tak ada kebahagiaan yang dicapai oleh seseorang yang tidak menempuh berbagai kesulitan. Jika ada seorang pemuda mendapat kekayaan karena warisan, ia tidak akan merasakan nikmatnya harta warisan itu sebagaimana nikmat yang dirasakan ayahnya tatkala ia hidup dengan usaha sendiri. Seorang pahlawan, mencapai titel pahlawan, dengan darah dan senjata. Seorang pejabat, pemimpin negara dan sebagainya, nampaknya mereka duduk di singgasana kemuliaan dengan senang. Padahal mereka mencapai posisi itu dengan susah payah. Begitulah. Kebahagiaan hakiki datang dari dalam diri, yakni kebahagiaan batin. Mencapai kebahagiaan batin harus melalui kesungguhan untuk mensucikan jiwa. Dan kesungguhan mensucikan jiwa itu sulit. Tapi hasil kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh, akan setara dengan sejauh mana tingkat kesungguhan dan kesulitan yang kita lalui untuk memperoleh kebahagiaan itu.

"Baik Hati" adalah "Emas" dalam Jiwa



Di dalam kehidupan ada banyak orang yang lugu dan baik hati. Namun pada umumnya seiring dengan standard moralitas umat manusia yang kian merosot, manusia kadang kala bisa beranggapan bahwa orang yang baik hati itu sangat tolol dan bodoh.

Sesungguhnya baik hati adalah etika moralitas yang paling tinggi di antara karakter manusia, orang yang berbuat banyak kebajikan, patut dikagumi. Jikalau seseorang memiliki hati yang baik, barulah bisa menyempurnakan kehidupannya sendiri.

Seseorang tidak serta-merta rugi sesuatu hanya dikarenakan kebaikan hati dan perbuatan baiknya sendiri, malah sebaliknya ia akan memperoleh imbalan rejeki berkat akumulasi berkahnya. Meskipun pada hal-hal sepele di dalam kehidupan sehari-hari, orang yang baik hati juga bisa merasa gembira atas suka cita orang lain, merasa bahagia atas kebahagiaan orang lain, pada setiap saat tidak akan bergendang paha dan merugikan orang lain demi keuntungan pribadi.

Insan yang bermoral jiwanya bertalian dengan Tuhan, di kala marabahaya senantiasa hanya keterkejutan yang dialami tapi tidak sampai membahayakan, memperoleh kemujuran dikala bencana, menjumpai kesulitan akan beralih menjadi suka-cita. Di tengah kehendak takdir, Tuhan melindungi orang yang baik hati.

Semua orang yang berkhianat dan licik di dalam masyarakat, seperti Hitler, Qin Hui (disebut juga Qin Kuai, Perdana Menteri licik semasa pemerintahan Dinasti Song, Tiongkok) dan sebangsanya, walau merasa diri sendiri pandai, toh akhirnya tak mampu mengandalkan pengkianatan dan kelicikannya untuk merubah nasib mereka yang berkesudahan dengan memalukan.

Suatu hari dalam perang dunia ke-II, panglima tertinggi pasukan sekutu di Eropa, Eisenhower di suatu tempat di Perancis berkendaraan pulang menuju pusat komando untuk mengikuti rapat dadakan kemiliteran.

Pada hari tersebut turun hujan salju dengan deras, udara terasa sangat dingin, mobil melaju seperti barisan tamu sepanjang jalan. Tiba-tiba ia melihat sepasang suami istri Perancis duduk di pinggir jalan dan menggigil kedinginan. Ia segera memerintahkan penterjemah di sebelahnya untuk turun menanyakan keadaan mereka.

Seorang penasehat dengan sigap mengingatkannya: “Kita harus tiba di rapat pusat komando dengan tepat waktu, persoalan semacam ini sebaiknya diserahkan kepada pihak kepolisian setempat.”
Akan tetapi Eisenhower bersikukuh: “Apabila menunggu pihak polisi datang, sepasang suami istri tua ini barangkali sudah mati kedinginan!” Melalui tanya jawab baru diketahui bahwa sepasang orangtua tersebut sedang dalam perjalanan mengungsi ke Paris ke rumah anaknya, tetapi mobilnya malah mogok di tengah jalan.

Di tempat itu selain jauh dari desa juga tak nampak adanya pertokoan, maka tak tahu bagaimana baiknya. Sesudah mendengar penuturan mereka Eisenhower segera meminta mereka menaiki kendaraan, malahan dengan khusus mengantar si pasangan tua tersebut ke Paris. Setelah itu barulah mereka menuju ke pusat komando.

Tidak pernah terpikir dalam benak Eisenhower melakukan kebajikan tersebut dengan pamrih. Akan tetapi, kebaikannya ternyata telah memperoleh imbalan yang tak terbayangkan.
Ternyata pada hari itu tentara Penyergap Nazi-Jerman sudah sejak pagi mengintai di dekat jalan yang harus dilalui oleh mereka, tinggal menunggu momentum di mana mobilnya melintas maka dengan segera akan dilakukan pembunuhan rahasia.

Andaikata bukan demi membantu pasangan suami istri tua tersebtu lalu merubah jalur perjalanan mereka, kemungkinan besar akan sangat sulit terhindar dari mala petaka tersebut. Jikalau Eisenhower mengalami penyergapan dan gugur, maka sejarah perang dunia ke-2 sangat mungkin akan ditulis ulang.
Apakah yang paling berharga di dalam kehidupan manusia? Yu Guo menjawab dengan bijak : “baik hati”. “Baik hati adalah mutiara langka di dalam sejarah, orang yang baik hati hampir boleh dikatakan lebih unggul daripada tokoh besar.” Penulis Amerika Mark Twain menyebutkan baik hati adalah semacam bahasa lintas global, ia bisa membuat orang buta “melek” dan orang tuli “mendengar”.

Hati yang bajik berkilauan bagaikan emas murni, bersih dan kemilau bagaikan sari embun. Hati yang bajik pasti luas dan lapang, mampu mewadahi seluruh maKhluk alam semesta, dan menciptakan kesejahteraan bagi kehidupan umat manusia. Orang yang berbuat kebaikan tanpa pamrih acap kali bisa memperoleh imbalan tak terduga, ini merupakan kodrat alami dari sebab-akibat yang gilir berputar.
Manusia yang baik hati seringkali membahagiakan orang lain, yang sesungguhnya juga membawa rezeki bagi dirinya sendiri. “Membantu orang lain, sama dengan membantu diri sendiri.” Perkataan ini mutlak bukan hanya berupa imbalan sebab akibat yang sederhana, melainkan adalah hal pokok menjadi seorang manusia.

Biarkanlah kebajikan eksis bersamaan dengan jiwa, ini merupakan berkah besar bagi manusia. Asalkan terdapat kebajikan di dalam jiwa, tentu keceriaan akan sering hadir dalam kehidupan; asalkan terdapat kebajikan di dalam jiwa, kebahagiaan akan senantiasa mendampingi kehidupan seseorang; dengan adanya kebajikan di dalam kehidupan, barulah jiwa bisa membubung dengan tiada henti.
Baik hati adalah emas di dalam kehidupan, baik hati adalah sinar kehidupan yang paling mulia di dalam karakter manusia.

Jumat, 16 Maret 2012

Membahagiakan Diri Sendiri dan Orang Lain


Ada pelajaran penting yang dapat saya tangkap dari interaksi sosial yang terjalin selama ini, bahwa salah satu bentuk usaha untuk membahagiakan diri sendiri dan orang lain adalah dengan memberikan penghormatan yang pantas dengan yang dihormatinya. Salah satu contohnya, memanggilnya dengan sapaan yang disenanginya, yakni dengan namanya yang sebenarnya atau gelarnya.

 Sungguh dingin dan berat perasaan orang yang menyebut nama saudaranya dengan konteks-konteks yang tidak jelas misalnya, "Anda, si Ini" atau "si Itu". Apakah dengan memanggil seperti itu Anda ingin orang lain tidak mengenal Anda, memanggil Anda dengan nama yang salah, atau menyapa dengan gelar yang tidak benar? Saya tidak yakin.

 Sikap mengabaikan dan menjatuhkan orang lain menunjukkan ketidakpekaan perasaan dan keras kepala.

 Seorang isteri yang telah berusaha mengatur rumah, merapikan posisi perabot, dan menambahkan wangi-wangian untuk menyegarkan ruangan, tentu tidak akan habis pikir ketika suaminya masuk dan tidak tidak acuh terhadap usaha isterinya ini. Tak ada ekspresi apa-apa, dingin. Sikap suami seperti ini akan memupuskan semangat dan perhatian.

 Berilah perhatian terhadap orang lain, ungkapkan rasa terimakasih Anda terhadap hasil karya orang lain, dan pujilah pemandangan yang bagus, bau yang menyegarkan, perbuatan yang baik, sifat yang terpuji, qashidah yang menyentuh, dan buku yang bermanfaat, agar nama Anda dicatat dalam daftarorang-orang yang bisa membalas budi dan jujur sebagai orang yang berkepribadian.

 Dr. 'Aidh al-Qorny
 Dari buku Laa Tahzan (Jangan Bersedih!) terbitan Qisthy Press

Agar Bahtera Tetap Berlayar


Dalam Islam pernikahan merupakan suatu aqad (perjanjian) yang diberkahi antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang dengan aqad itu menjadi halal bagi keduanya hal-hal yang sebelumnya diharamkan. Dengan pernikahan itu keduanya mulai mengarungi bahtera kehidupan panjang yang diwarnai cinta dan kasih saying, saling pengertian, toleransi, saling tolong menolong, masing-masing memberikan ketenangan bagi yang lain, sehingga dalam perjalanannya keduanya mendapatkan kebahagiaan.

 Namun, bahtera pernikahan tidak selalu menghadapi laut yang tenang, kadang ada riak, kadang ada ombak kecil, kali lain datang ombak besar yang kesemuanya dapat membuat bahtera kita menjadi oleng. Itulah sunnatullah (ketetapan Allah), karenanya barang siapa berani berlayar ia tidak boleh takut menghadapi ombak.

 Berikut ini kiat-kiat yang dapat dilakukan suami istri agar bahtera pernikahan tetap berlayar walau ombak datang menghadang.

 Mendekatkan diri kepada Allah SWT

 Ini adalah kiat terpenting, karena hati manusia berada di antara dua jemari Allah yang Maha Penyayang. Harm bin Hayyan seorang ahli ibadah di masa Umar ra berkata, "Tiada seorang hamba yang mendekatkan hatinya kepada Allah, melainkan Allah akan mendekatkan hati orang-orang mukmin kepadanya sampai ia mendapatkan cinta mereka." Caranya adalah suami istri saling mengingatkan tentang ibadah masing-masing, baik yang wajib maupun yang sunnah dan keduanya berusaha berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dalam membina rumah tangga.

 Betapa indahnya gambaran yang diceritakan Rasulullah SAW mengenai sepasang suami istri berikut ini, "Semoga Allah merahmati laki-laki yang bangun malam dan mengerjakan shalat, lalu membangunkan istrinya untuk mengerjakan shalat. Apabila istrinya tidak mau, ia mencipratkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati wanita yang bangun malam dan mengerjakan shalat, lalu membangunkan suaminya untuk mengerjakan shalat. Apabila suaminya tidak mau, ia mencipratkan air ke wajahnya." (HR Abu Dawud, Nasa'l dan Ibnu Majah).

 Suasana saling mengingatkan dan saling tolong menolong yang terjalin antara suami istri dalam berbuat ketaatan akan menjadikan rumah tangga insya Allah berada dalam naungan rahmat Allah. Karenanya, jika suami atau istri merasakan adanya kesenjangan dengan pasangannya, atau merasakan kesempitan/beratnya beban dalam menghadapi persoalan/masalah dalam rumah tangga maka hal pertama yang harus dilakukan hendaknya keduanya mengoreksi kualitas hubungannya dengan Allah.

 Berusaha menyertai pasangan saat suka dan duka Tiap orang memiliki kegemaran berbeda dan biasanya merupakan kesenangan tersendiri jika kita dapat menikmati kegemaran kita, itulah saat-saat 'suka' bagi kita. Karena itu orang memiliki saat-saat suka yang berbeda-beda. Begitu pula halnya dengan suami istri, kegemaran yang berbeda memungkinkan keduanya memiliki saat-saat suka yang berbeda pula.

 Misalnya suami mengalami saat suka kala membaca dan mengeksplorasi komputer (karena itulah kegemarannya) sedang istri mengalaminya ketika sedang 'mengeksplorasi' resep-resep baru. Dan menjadi sesuatu yang membahagiakan apabila pada saat tertentu keduanya saling menyertai dalam menikmati kegemaran pasangannya. Tidak ada salahnya jika sekali-kali ikut berpartisipasi mengaduk-aduk tepung saat istrinya sedan mencoba resep baru, keduanya dapat bersenda gurau sebagaimana pernah suatu saat Rasulullah SAW mencandai A'isyah ra ketika sedang bersama mengaduk tepung, beliau memoleskan tepung ke wajah A'isyah ra, atau saat Rasulullah SAW mengajak A'isyah lomba lari.

 Demikian juga hendaknya ketika suami atau istri atau rumah tangga sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah SWT, keduanya saling menyertai dan menguatkan satu sama lain. Ingatlah kisah kesetiaan dan kesabaran Siti Khadijah ra menyertai Rasulullah SAW saat awal menerima risalah, menjadi pendamping beliau saat dimana semua orang bahkan kerabat Rasul sendiri memusuhi beliau, tetap menjadi pendamping beliau yang setia saat Rasulullah diboikot selama tiga tahun oleh masyarakat Quraisyi hingga mereka dan kaum muslimin lainnya harus makan rumput-rumputan karena tidak ada makanan dan bukan hanya itu, Ibunda Khadijah ra bahkan telah menyerahkan dirinya, hartanya, jiwanya dan seluruh hidupnya untuk menyertai Rasulullah SAW dalam menegakkan risalah-Nya. Keseluruhan kepribadian dan sikap Ibunda Khadijah ra ini membuat kedudukan beliau di mata Rasulullah SAW tidak tergantikan oleh istri-istri yang lain yang dinikahi beliau setelah wafatnya.

 Memupuk sikap toleransi dan berusaha menjadi pemaaf bagi pasangannya

 Adalah sesuatu yang tidak mungkin jika kita berharap pasangan kita selalu melakukan yang sesuai dengan keinginan kita atau selalu menjadi yang kita inginkan atau tidak melakukan kesalahan. "Manusia itu tempatnya salah dan dosa," demikian kata Rasulullah SAW. Karena itu yang terbaik adalah masing-masing berusaha memiliki toleransi yang besar terhadap hal-hal yang dilakukan pasangannya tidak sesuai keinginannya, dan menjadi pemaaf terhadap kesalahan yang dilakukan pasangannya, tidak mengingatnya dan tidak menyebutnya dari waktu ke waktu.

 "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin supaya Allah memberi ampunan kepada kalian?" (QS An-Nur: 22)

 Menjaga 'rahasia' pasangan

 Setiap orang memiliki 'rahasia' yang tidak suka diceritakan atau diketahui orang lain, begitu pula halnya dengan pasangan suami istri. Walaupun suami istri terkadang saling mengetahui 'rahasia' pasangannya, keduanya tetap tidak suka jika rahasia tersebut diketahui orang lain. Karena itu hendaknya suami istri saling menjaga rahasia pasangannya, yang demikian itu lebih dapat menjaga perasaan masing-masing sehingga mewujudkan rasa saling percaya diantara keduanya. Terlebih bila rahasia itu menyangkut hubungan suami istri, Ingatlah sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat laki-laki yang menggauli istrinya dan wanita yang menggauli suaminya, kemudian salah seorang dari keduanya menceritakan rahasia suami istri itu." ***

 Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Safina No. 4 Tahun I, Juni 2003

Setiap Manusia Itu Istimewa




Jika Anda disodorkan sebuah foto diri Anda dan teman-teman, siapa sosok yang pertama kali ingin Anda lihat? Sudah pasti gambar Anda sendiri, baru kemudian gambar teman-teman Anda. Iya ya, mungkin itu yang ada di benak Anda ketika hal di atas dikemukakan. Anda tak perlu heran, karena setiap kita adalah istimewa. Keistimewaan yang dimiliki setiap manusia itulah yang membuat setiap manusia juga merasa harus dipentingkan.

 Tidak hanya manusia dewasa, anak bayi pun sudah dibekali sifat ingin dipentingkan layaknya orang dewasa. Bayi memang tidak bisa bicara, tapi ia punya senjata yang sangat ampuh untuk mengekpresikan kekecewaan, dan juga meminta perhatian dari orang dewasa, yakni menangis. Coba saja Anda abaikan ajakan anak Anda atau keponakan Anda untuk bermain bersama, ia pasti akan merengek atau berteriak keras sambil menangis meminta Anda menuruti kehendaknya. Atau tatkala seorang anak kecil meminta Anda membelikan permen kesukaannya namun Anda tak menggubrisnya, kebanyakan anak-anak pasti menangis. Belum lah berhenti tangisnya sebelum Anda memberikan perhatian penuh kepadanya.

 Setiap manusia memiliki perasaan bahwa dia istimewa dan ingin dipentingkan, semestinya ini menjadi salah satu kunci sukses membina hubungan baik dengan orang lain. Salah satu prinsip inter-relationship yang harus dipegang kuat adalah menjaga agar seseorang tidak kehilangan perasaan istimewanya atau tetap membuat seseorang yakin bahwa ia bagian penting dari sesuatu. Dan kunci semua itu ada di dua indera yang Anda miliki, mata dan telinga!

 Manusia dianugerahkan dua telinga dengan satu mulut agar manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Upayakan untuk terlatih mendengar setiap pembicaraan orang lain hingga ia selesai berbicara, sementara disaat yang sama kita berupaya untuk menahan mulut ini berbicara, apakah itu menyela pembicaraan orang, atau bahkan meminta orang lain tak meneruskan bicaranya. Padahal ia belum tuntas menyampaikan ide dan gagasannya.

 Ini adalah salah satu cara efektif untuk tetap menjaga perasaan istimewa seseorang. Ia merasa bahwa dirinya dipentingkan ketika orang yang diajak bicara mendengarkan dengan seksama, penuh perhatian, pandangan yang serius dan tak menunjukkan sedikitpun rasa bosan. Berlatih lah untuk melakukan hal ini, maka Anda telah mendapatkan dirinya secara tidak langsung. Indikasinya, ketika Anda berbicara, maka ia akan melakukan hal yang sama dengan Anda, yakni menganggap bahwa Anda itu istimewa dan setiap pembicaraan Anda menjadi penting untuk didengarkan.

 Selain itu, usahakan berbicara sesuatu yang baik dengan cara yang baik pula, ini akan terdengar menyejukkan di telinga orang yang mendengarkan Anda. Dengan berbicara yang baik menggunakan cara yang baik, Anda juga telah membantu seseorang untuk merasa diperlakukan secara baik pula.

 Berusaha untuk berbicara yang baik dan disaat yang sama juga belajar untuk mendengarkan setiap pembicaraan lawan bicara dengan sabar dan penuh perhatian, tidak lah mudah. Perlu latihan dan kerja keras untuk bisa menerapkannya. Ini lah tantangannya, karena sifat dasar manusia itu sendiri yang merasa dirinya istimewa dan ingin dipentingkan sering memaksa Anda untuk ingin terus berbicara dan berharap orang lain mau mendengarkan, karena Anda merasa penting untuk didengarkan. Jadi, sesungguhnya amatlah berat menerapkan cara ini. Di satu sisi Anda ingin merasa tetap istimewa dan ingin dipentingkan, di sisi lain Anda harus menghargai perasaan istimewa dan ingin dipentingkan milik orang lain. Namun demikian, dengan kesabaran dan kesungguhan, Anda pasti bisa melakukannya.

 Satu tips untuk Anda, ketika Anda mencoba sabar menahan ego Anda untuk merasa istimewa dan dipentingkan, sementara Anda tetap menjaga perasaan istimewa dan ingin dipentingkannya orang lain, justru disitulah letak keistimewaan Anda. Ya, dengan demikian Anda benar-benar telah menjadi orang yang istimewa. Yakinlah!

Kasih Sayang dalam Keluarga


Fakta-fakta yang ada dalam beberapa waktu terakhir ini menunjukkan cukup banyaknya peristiwa kriminalitas yang terjadi di lingkungan keluarga. Pelaku dan korbannya adalah anggota keluarga yang hidup dalam satu rumah, atau setidaknya masih ada hubungan keluarga. Secara umum kemunculan setiap kasus lebih banyak dipengaruhi faktor krisis: ekonomi, tingkat pendidikan, moral, dan sejenisnya.

Betapapun, fakta ini menunjukkan bahwa kasih sayang, cinta, kehangatan, telah hilang dari lingkungan keluarga, dan diganti oleh kecenderungan-kecenderungan syaithaniyah yang bersandarkan hawa nafsu duniawi yang sesaat dan semu. Rasulullah SAW mengajarkan, dalam keadaan apa pun, cinta dan kasih sayang mesti selalu ditumbuhkan di dalam lingkungan keluarga. Kondisi krisis tidak bisa menjadi alasan bagi luluhnya nuansa cinta, kasih sayang, dan kehangatan di tengah-tengah keluarga. Siti Aisyah mengisahkan, ''Suatu kali seorang perempuan miskin mendatangiku dan ia membawa dua anak perempuannya yang masih kecil.

Aku memberinya tiga buah kurma. Ia memberikan dua butir kepada dua anaknya. Niatnya, ia akan memakan sisanya. Tetapi, kedua anaknya berebut sisa kurma yang masih di tangannya, sehingga kurma itu jatuh. Perempuan itu, akhirnya, tidak makan sebutir pun. Aku melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah, dan beliau bersabda, 'Barangsiapa yang mendapat cobaan dan menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari jilatan api neraka'.'' (HR Bukhari, Muslim, dan Turmudzi).

Hadis di atas menegaskan bahwa dalam kondisi krisis seperti apa pun, rasa kasih sayang pada anak, tanggung jawab untuk melindungi anak, dan seterusnya, tetap merupakan kewajiban, dan Allah akan memberi anugerah yang besar kepada mereka yang bisa mewujudkan ajaran ini dengan penuh rasa pengabdian dan ikhlas. Tentu saja, demikian pula sebaliknya, anak juga harus tetap menunjukkan rasa baktinya, kasih sayangnya, kepada orang tua mereka, sebagai wujud rasa syukur kita kepada mereka yang telah dengan susah payah (terutama ibu) mengasuh kita sewaktu kecil.

Jasa orang tua sangatlah besar bagi kehidupan kita, sampai-sampai Umar bin Khattab berkata, ''Kamu tidak akan pernah bisa membalas jasa orang tuamu, meskipun keduanya menjadi budak dan kamu membebaskannya.'' Tidak hanya antara anak dan orang tua, atau sebaliknya, tetapi rasa kasih sayang harus ditumbuhkan antarsaudara, dari yang paling dekat, yang dekat, kemudian yang jauh, dan seterusnya. Begitulah yang diajarkan Islam.

Peradaban suatu bangsa tumbuh dari lingkup terkecil dalam tatanan sosialnya: keluarga. Kondisi harmoni dan penuh cinta yang meliputi suatu keluarga akan berpengaruh bagi kondisi sekitarnya, yakni masyarakat yang lebih luas: bangsa. Kondisi bangsa akan senantiasa nyaman dan damai, jika kita ikut berperan mengelola dan menjaganya, mulai dari lingkup yang paling kecil, yaitu keluarga. Wallahu a'lam.