Translate

Senin, 19 Maret 2012

Menjadi Diri Sendiri

to be yourselft
Kita mendatangkan kepada diri sendiri begitu banyak ketidakbahagiaan dengan berusaha menyesuaikan diri dengan pola yang tidak sesuai dengan diri kita.

Anda mungkin begitu mengagumi sepasang sepatu sehingga anda bersikeras untuk memakainya walaupun sepatu itu tidak cocok ukurannya. Kalau ini persoalannya, mengapa Anda harus memakainya?

Tidak peduli sebesar apapun kekaguman kita kepada seseorang, kita bukan orang itu dan tidak bisa menjadi orang itu. Semakin kita berusaha menyesuaikan diri dengan pola perilaku orang lain, akan semakin bingung dan kacaulah diri kita. Bahkan lebih buruk lagi, kita kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri karena selalu kita akan cenderung menyepelekan diri kita dan terlalu memandang tinggi orang lain.

Orang yang paling sengsara adalah mereka yang menginginkan dirinya orang lain. Angan-angan ini menyebabkan orang terus-menerus berpura-pura menjadi sesuatu yang sebenarnya bukan. Itu salah satu penyebab utama stress.

Kalau anda hidup dalam kebohongan, anda tidak akan tahu kapan anda akan ketahuan, walaupun hanya oleh diri anda sendiri. Berusaha memanfaatkan secara maksimal bakat-bakat yang anda miliki dan bukannya iri kepada bakat orang lain adalah yang anda perlukan untuk mencapai sukses.
Camkan dalam pikiran anda, bahwa anda memiliki ciri khas yang unik yang tidak dimiliki orang lain. Jadi, kenapa anda harus menjadi orang lain.. Jadilah diri anda sendiri.. dan buatlah perbedaan dan pertahankan itu.

Jangan berkaca pada hasil yang telah dicapai oleh orang lain. Berkacalah pada diri sendiri. Anda adalah pribadi yang unik. Tak satu orang pun dapat menyamai anda. Dalam diri anda terdapat keistimewaan yang tak dimiliki oleh orang lain. Begitu pula, orang lain mempunyai keistimewaannya sendiri yang tak ada pada anda.

Jadi, mengapa harus terpaku pada pencapaian orang lain? Alam menciptakan perbedaan. Karena itu kita dapat melihat keindahan. Tugas kita adalah menemukan keunggulan yang ada dalam diri sendiri dan mempersembahkannya pada alam. Itulah keberhasilan yang hakiki.

Seorang pemenang sejati berusaha memperbaiki catatannya sendiri ketimbang berambisi mengalahkan orang lain.

Tingkat Kebahagiaan



Jiwa adalah harta termahal. Kesucian jiwa menyebabkan kejernihan diri, lahir dan batin. Itulah kekyaan sejati. Banyak orang kaya harta, tapi mukanya muram. Banyak orang yang miskin uang, tapi wajahnya berseri. Kebahagiaan memang bukan ditentukan oleh harta, tapi oleh jiwa yang ada dalam diri. Kebahagiaan yang datang dari luar kerapkali hampa, palsu. Orang yang mengalami kondisi itu kerap kali ragu, syak, cemburu, putus harapan. Sangat gembira jika dihujani rahmat, lupa bahwa hidup ini berputar putar. Sangat kecewa jika ditimpa bahaya. Lupa bahwa kesenangan terletak di antara dua kesusahan dan kesusahan terletak di antara dua kesenangan. Ia juga lupa dalam senang itu tersimpan kesusahan dan dalam kesusahan telah ada unsure kesenangan.

Bertambah banyak kesenangan dan kebahagiaan yang datang dari luar diri, bertambah miskinlah orang yang diperdayakannya. Ketika memperoleh pendapatan kecil, keperluan untuk menjaga yang kecil itu, juga kecil. Setelah besar, bernangsur besar juga keperluannya. Bertambah luas, bertambah luas pula penjagaan yang diperlukan. Karena itu, banyak orang kaya secara lahir, miskin pada hakikatnya, Di sini nyatalah arti kekayaan dan kemiskinan. Orang yang paling kaya, ialah yang paling sedikit keperluannya. Dan orang yang paling miskin ialah yang paling banyak keperluannya. Kalau bahagia adalah barang yang datang dari luar, tak satupun makhluk yang kaya. Semuanya miskin belaka. Yang kaya hanya Allah Tuhan Semesta alam. Apakah kita silau melihat seorang penguasa dan pengawalnya yang banyak, pendukungnya yang banyak, istananya yang megah, harta bendanya yang mewah, penjagaan yang dilakukan oleh para pendukung penguasa itu, mobil dan kendaraan yang bisa dipakai. Orang-orang kaya itu meskipun berpangkat dan kaya harta, boleh jadi menanggung kesengsaraan batin yang tiada terkira. Harta benda yang mahal harganya itu meski berharga, lama-lama dipandang sebagai pasir karena ia sudah sering menggunakannya dan membosankan. Itulah sebabnya banyak orang kaya yang mencari kebahagiaan hidup di pedesaan atau menyendiri. Bahkan ada juga yang ingin lekas mati untuk menemui nikmat yang abadi. Hidup kita hanyalah pertempuran dan perjuangan.

Dinamakan manusia, adalah karena ia tidak akan sunyi dari kelemahan dan kesalahan. Jika sejak lahir sampai masuk kubur, kita suci, bebas dari salah dan alpa, tentu tidak layak kita jadi manusia. Sebab yang seperti itu adalah tabiat malaikat. Kita, manusia, pasti merasakan nikmatnya istirahat sesudah lelah bekerja. Kita juga pasti meraasakan kelezatan menghadap Tuhan kelak di akhirat sehabis bertempur dengan ranjau-ranjau hidup sepanjang usia kita. Orang yang takut menghadapi hidup, tidak akan berani menggosok dan mensucikan batinnya. Ia juga tidak akan merasakan arti kelezatan dan kebahagiaan hakiki. Tak ada kebahagiaan yang dicapai oleh seseorang yang tidak menempuh berbagai kesulitan. Jika ada seorang pemuda mendapat kekayaan karena warisan, ia tidak akan merasakan nikmatnya harta warisan itu sebagaimana nikmat yang dirasakan ayahnya tatkala ia hidup dengan usaha sendiri. Seorang pahlawan, mencapai titel pahlawan, dengan darah dan senjata. Seorang pejabat, pemimpin negara dan sebagainya, nampaknya mereka duduk di singgasana kemuliaan dengan senang. Padahal mereka mencapai posisi itu dengan susah payah. Begitulah. Kebahagiaan hakiki datang dari dalam diri, yakni kebahagiaan batin. Mencapai kebahagiaan batin harus melalui kesungguhan untuk mensucikan jiwa. Dan kesungguhan mensucikan jiwa itu sulit. Tapi hasil kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh, akan setara dengan sejauh mana tingkat kesungguhan dan kesulitan yang kita lalui untuk memperoleh kebahagiaan itu.

"Baik Hati" adalah "Emas" dalam Jiwa



Di dalam kehidupan ada banyak orang yang lugu dan baik hati. Namun pada umumnya seiring dengan standard moralitas umat manusia yang kian merosot, manusia kadang kala bisa beranggapan bahwa orang yang baik hati itu sangat tolol dan bodoh.

Sesungguhnya baik hati adalah etika moralitas yang paling tinggi di antara karakter manusia, orang yang berbuat banyak kebajikan, patut dikagumi. Jikalau seseorang memiliki hati yang baik, barulah bisa menyempurnakan kehidupannya sendiri.

Seseorang tidak serta-merta rugi sesuatu hanya dikarenakan kebaikan hati dan perbuatan baiknya sendiri, malah sebaliknya ia akan memperoleh imbalan rejeki berkat akumulasi berkahnya. Meskipun pada hal-hal sepele di dalam kehidupan sehari-hari, orang yang baik hati juga bisa merasa gembira atas suka cita orang lain, merasa bahagia atas kebahagiaan orang lain, pada setiap saat tidak akan bergendang paha dan merugikan orang lain demi keuntungan pribadi.

Insan yang bermoral jiwanya bertalian dengan Tuhan, di kala marabahaya senantiasa hanya keterkejutan yang dialami tapi tidak sampai membahayakan, memperoleh kemujuran dikala bencana, menjumpai kesulitan akan beralih menjadi suka-cita. Di tengah kehendak takdir, Tuhan melindungi orang yang baik hati.

Semua orang yang berkhianat dan licik di dalam masyarakat, seperti Hitler, Qin Hui (disebut juga Qin Kuai, Perdana Menteri licik semasa pemerintahan Dinasti Song, Tiongkok) dan sebangsanya, walau merasa diri sendiri pandai, toh akhirnya tak mampu mengandalkan pengkianatan dan kelicikannya untuk merubah nasib mereka yang berkesudahan dengan memalukan.

Suatu hari dalam perang dunia ke-II, panglima tertinggi pasukan sekutu di Eropa, Eisenhower di suatu tempat di Perancis berkendaraan pulang menuju pusat komando untuk mengikuti rapat dadakan kemiliteran.

Pada hari tersebut turun hujan salju dengan deras, udara terasa sangat dingin, mobil melaju seperti barisan tamu sepanjang jalan. Tiba-tiba ia melihat sepasang suami istri Perancis duduk di pinggir jalan dan menggigil kedinginan. Ia segera memerintahkan penterjemah di sebelahnya untuk turun menanyakan keadaan mereka.

Seorang penasehat dengan sigap mengingatkannya: “Kita harus tiba di rapat pusat komando dengan tepat waktu, persoalan semacam ini sebaiknya diserahkan kepada pihak kepolisian setempat.”
Akan tetapi Eisenhower bersikukuh: “Apabila menunggu pihak polisi datang, sepasang suami istri tua ini barangkali sudah mati kedinginan!” Melalui tanya jawab baru diketahui bahwa sepasang orangtua tersebut sedang dalam perjalanan mengungsi ke Paris ke rumah anaknya, tetapi mobilnya malah mogok di tengah jalan.

Di tempat itu selain jauh dari desa juga tak nampak adanya pertokoan, maka tak tahu bagaimana baiknya. Sesudah mendengar penuturan mereka Eisenhower segera meminta mereka menaiki kendaraan, malahan dengan khusus mengantar si pasangan tua tersebut ke Paris. Setelah itu barulah mereka menuju ke pusat komando.

Tidak pernah terpikir dalam benak Eisenhower melakukan kebajikan tersebut dengan pamrih. Akan tetapi, kebaikannya ternyata telah memperoleh imbalan yang tak terbayangkan.
Ternyata pada hari itu tentara Penyergap Nazi-Jerman sudah sejak pagi mengintai di dekat jalan yang harus dilalui oleh mereka, tinggal menunggu momentum di mana mobilnya melintas maka dengan segera akan dilakukan pembunuhan rahasia.

Andaikata bukan demi membantu pasangan suami istri tua tersebtu lalu merubah jalur perjalanan mereka, kemungkinan besar akan sangat sulit terhindar dari mala petaka tersebut. Jikalau Eisenhower mengalami penyergapan dan gugur, maka sejarah perang dunia ke-2 sangat mungkin akan ditulis ulang.
Apakah yang paling berharga di dalam kehidupan manusia? Yu Guo menjawab dengan bijak : “baik hati”. “Baik hati adalah mutiara langka di dalam sejarah, orang yang baik hati hampir boleh dikatakan lebih unggul daripada tokoh besar.” Penulis Amerika Mark Twain menyebutkan baik hati adalah semacam bahasa lintas global, ia bisa membuat orang buta “melek” dan orang tuli “mendengar”.

Hati yang bajik berkilauan bagaikan emas murni, bersih dan kemilau bagaikan sari embun. Hati yang bajik pasti luas dan lapang, mampu mewadahi seluruh maKhluk alam semesta, dan menciptakan kesejahteraan bagi kehidupan umat manusia. Orang yang berbuat kebaikan tanpa pamrih acap kali bisa memperoleh imbalan tak terduga, ini merupakan kodrat alami dari sebab-akibat yang gilir berputar.
Manusia yang baik hati seringkali membahagiakan orang lain, yang sesungguhnya juga membawa rezeki bagi dirinya sendiri. “Membantu orang lain, sama dengan membantu diri sendiri.” Perkataan ini mutlak bukan hanya berupa imbalan sebab akibat yang sederhana, melainkan adalah hal pokok menjadi seorang manusia.

Biarkanlah kebajikan eksis bersamaan dengan jiwa, ini merupakan berkah besar bagi manusia. Asalkan terdapat kebajikan di dalam jiwa, tentu keceriaan akan sering hadir dalam kehidupan; asalkan terdapat kebajikan di dalam jiwa, kebahagiaan akan senantiasa mendampingi kehidupan seseorang; dengan adanya kebajikan di dalam kehidupan, barulah jiwa bisa membubung dengan tiada henti.
Baik hati adalah emas di dalam kehidupan, baik hati adalah sinar kehidupan yang paling mulia di dalam karakter manusia.

Jumat, 16 Maret 2012

Membahagiakan Diri Sendiri dan Orang Lain


Ada pelajaran penting yang dapat saya tangkap dari interaksi sosial yang terjalin selama ini, bahwa salah satu bentuk usaha untuk membahagiakan diri sendiri dan orang lain adalah dengan memberikan penghormatan yang pantas dengan yang dihormatinya. Salah satu contohnya, memanggilnya dengan sapaan yang disenanginya, yakni dengan namanya yang sebenarnya atau gelarnya.

 Sungguh dingin dan berat perasaan orang yang menyebut nama saudaranya dengan konteks-konteks yang tidak jelas misalnya, "Anda, si Ini" atau "si Itu". Apakah dengan memanggil seperti itu Anda ingin orang lain tidak mengenal Anda, memanggil Anda dengan nama yang salah, atau menyapa dengan gelar yang tidak benar? Saya tidak yakin.

 Sikap mengabaikan dan menjatuhkan orang lain menunjukkan ketidakpekaan perasaan dan keras kepala.

 Seorang isteri yang telah berusaha mengatur rumah, merapikan posisi perabot, dan menambahkan wangi-wangian untuk menyegarkan ruangan, tentu tidak akan habis pikir ketika suaminya masuk dan tidak tidak acuh terhadap usaha isterinya ini. Tak ada ekspresi apa-apa, dingin. Sikap suami seperti ini akan memupuskan semangat dan perhatian.

 Berilah perhatian terhadap orang lain, ungkapkan rasa terimakasih Anda terhadap hasil karya orang lain, dan pujilah pemandangan yang bagus, bau yang menyegarkan, perbuatan yang baik, sifat yang terpuji, qashidah yang menyentuh, dan buku yang bermanfaat, agar nama Anda dicatat dalam daftarorang-orang yang bisa membalas budi dan jujur sebagai orang yang berkepribadian.

 Dr. 'Aidh al-Qorny
 Dari buku Laa Tahzan (Jangan Bersedih!) terbitan Qisthy Press

Agar Bahtera Tetap Berlayar


Dalam Islam pernikahan merupakan suatu aqad (perjanjian) yang diberkahi antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang dengan aqad itu menjadi halal bagi keduanya hal-hal yang sebelumnya diharamkan. Dengan pernikahan itu keduanya mulai mengarungi bahtera kehidupan panjang yang diwarnai cinta dan kasih saying, saling pengertian, toleransi, saling tolong menolong, masing-masing memberikan ketenangan bagi yang lain, sehingga dalam perjalanannya keduanya mendapatkan kebahagiaan.

 Namun, bahtera pernikahan tidak selalu menghadapi laut yang tenang, kadang ada riak, kadang ada ombak kecil, kali lain datang ombak besar yang kesemuanya dapat membuat bahtera kita menjadi oleng. Itulah sunnatullah (ketetapan Allah), karenanya barang siapa berani berlayar ia tidak boleh takut menghadapi ombak.

 Berikut ini kiat-kiat yang dapat dilakukan suami istri agar bahtera pernikahan tetap berlayar walau ombak datang menghadang.

 Mendekatkan diri kepada Allah SWT

 Ini adalah kiat terpenting, karena hati manusia berada di antara dua jemari Allah yang Maha Penyayang. Harm bin Hayyan seorang ahli ibadah di masa Umar ra berkata, "Tiada seorang hamba yang mendekatkan hatinya kepada Allah, melainkan Allah akan mendekatkan hati orang-orang mukmin kepadanya sampai ia mendapatkan cinta mereka." Caranya adalah suami istri saling mengingatkan tentang ibadah masing-masing, baik yang wajib maupun yang sunnah dan keduanya berusaha berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dalam membina rumah tangga.

 Betapa indahnya gambaran yang diceritakan Rasulullah SAW mengenai sepasang suami istri berikut ini, "Semoga Allah merahmati laki-laki yang bangun malam dan mengerjakan shalat, lalu membangunkan istrinya untuk mengerjakan shalat. Apabila istrinya tidak mau, ia mencipratkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati wanita yang bangun malam dan mengerjakan shalat, lalu membangunkan suaminya untuk mengerjakan shalat. Apabila suaminya tidak mau, ia mencipratkan air ke wajahnya." (HR Abu Dawud, Nasa'l dan Ibnu Majah).

 Suasana saling mengingatkan dan saling tolong menolong yang terjalin antara suami istri dalam berbuat ketaatan akan menjadikan rumah tangga insya Allah berada dalam naungan rahmat Allah. Karenanya, jika suami atau istri merasakan adanya kesenjangan dengan pasangannya, atau merasakan kesempitan/beratnya beban dalam menghadapi persoalan/masalah dalam rumah tangga maka hal pertama yang harus dilakukan hendaknya keduanya mengoreksi kualitas hubungannya dengan Allah.

 Berusaha menyertai pasangan saat suka dan duka Tiap orang memiliki kegemaran berbeda dan biasanya merupakan kesenangan tersendiri jika kita dapat menikmati kegemaran kita, itulah saat-saat 'suka' bagi kita. Karena itu orang memiliki saat-saat suka yang berbeda-beda. Begitu pula halnya dengan suami istri, kegemaran yang berbeda memungkinkan keduanya memiliki saat-saat suka yang berbeda pula.

 Misalnya suami mengalami saat suka kala membaca dan mengeksplorasi komputer (karena itulah kegemarannya) sedang istri mengalaminya ketika sedang 'mengeksplorasi' resep-resep baru. Dan menjadi sesuatu yang membahagiakan apabila pada saat tertentu keduanya saling menyertai dalam menikmati kegemaran pasangannya. Tidak ada salahnya jika sekali-kali ikut berpartisipasi mengaduk-aduk tepung saat istrinya sedan mencoba resep baru, keduanya dapat bersenda gurau sebagaimana pernah suatu saat Rasulullah SAW mencandai A'isyah ra ketika sedang bersama mengaduk tepung, beliau memoleskan tepung ke wajah A'isyah ra, atau saat Rasulullah SAW mengajak A'isyah lomba lari.

 Demikian juga hendaknya ketika suami atau istri atau rumah tangga sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah SWT, keduanya saling menyertai dan menguatkan satu sama lain. Ingatlah kisah kesetiaan dan kesabaran Siti Khadijah ra menyertai Rasulullah SAW saat awal menerima risalah, menjadi pendamping beliau saat dimana semua orang bahkan kerabat Rasul sendiri memusuhi beliau, tetap menjadi pendamping beliau yang setia saat Rasulullah diboikot selama tiga tahun oleh masyarakat Quraisyi hingga mereka dan kaum muslimin lainnya harus makan rumput-rumputan karena tidak ada makanan dan bukan hanya itu, Ibunda Khadijah ra bahkan telah menyerahkan dirinya, hartanya, jiwanya dan seluruh hidupnya untuk menyertai Rasulullah SAW dalam menegakkan risalah-Nya. Keseluruhan kepribadian dan sikap Ibunda Khadijah ra ini membuat kedudukan beliau di mata Rasulullah SAW tidak tergantikan oleh istri-istri yang lain yang dinikahi beliau setelah wafatnya.

 Memupuk sikap toleransi dan berusaha menjadi pemaaf bagi pasangannya

 Adalah sesuatu yang tidak mungkin jika kita berharap pasangan kita selalu melakukan yang sesuai dengan keinginan kita atau selalu menjadi yang kita inginkan atau tidak melakukan kesalahan. "Manusia itu tempatnya salah dan dosa," demikian kata Rasulullah SAW. Karena itu yang terbaik adalah masing-masing berusaha memiliki toleransi yang besar terhadap hal-hal yang dilakukan pasangannya tidak sesuai keinginannya, dan menjadi pemaaf terhadap kesalahan yang dilakukan pasangannya, tidak mengingatnya dan tidak menyebutnya dari waktu ke waktu.

 "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin supaya Allah memberi ampunan kepada kalian?" (QS An-Nur: 22)

 Menjaga 'rahasia' pasangan

 Setiap orang memiliki 'rahasia' yang tidak suka diceritakan atau diketahui orang lain, begitu pula halnya dengan pasangan suami istri. Walaupun suami istri terkadang saling mengetahui 'rahasia' pasangannya, keduanya tetap tidak suka jika rahasia tersebut diketahui orang lain. Karena itu hendaknya suami istri saling menjaga rahasia pasangannya, yang demikian itu lebih dapat menjaga perasaan masing-masing sehingga mewujudkan rasa saling percaya diantara keduanya. Terlebih bila rahasia itu menyangkut hubungan suami istri, Ingatlah sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat laki-laki yang menggauli istrinya dan wanita yang menggauli suaminya, kemudian salah seorang dari keduanya menceritakan rahasia suami istri itu." ***

 Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Safina No. 4 Tahun I, Juni 2003

Setiap Manusia Itu Istimewa




Jika Anda disodorkan sebuah foto diri Anda dan teman-teman, siapa sosok yang pertama kali ingin Anda lihat? Sudah pasti gambar Anda sendiri, baru kemudian gambar teman-teman Anda. Iya ya, mungkin itu yang ada di benak Anda ketika hal di atas dikemukakan. Anda tak perlu heran, karena setiap kita adalah istimewa. Keistimewaan yang dimiliki setiap manusia itulah yang membuat setiap manusia juga merasa harus dipentingkan.

 Tidak hanya manusia dewasa, anak bayi pun sudah dibekali sifat ingin dipentingkan layaknya orang dewasa. Bayi memang tidak bisa bicara, tapi ia punya senjata yang sangat ampuh untuk mengekpresikan kekecewaan, dan juga meminta perhatian dari orang dewasa, yakni menangis. Coba saja Anda abaikan ajakan anak Anda atau keponakan Anda untuk bermain bersama, ia pasti akan merengek atau berteriak keras sambil menangis meminta Anda menuruti kehendaknya. Atau tatkala seorang anak kecil meminta Anda membelikan permen kesukaannya namun Anda tak menggubrisnya, kebanyakan anak-anak pasti menangis. Belum lah berhenti tangisnya sebelum Anda memberikan perhatian penuh kepadanya.

 Setiap manusia memiliki perasaan bahwa dia istimewa dan ingin dipentingkan, semestinya ini menjadi salah satu kunci sukses membina hubungan baik dengan orang lain. Salah satu prinsip inter-relationship yang harus dipegang kuat adalah menjaga agar seseorang tidak kehilangan perasaan istimewanya atau tetap membuat seseorang yakin bahwa ia bagian penting dari sesuatu. Dan kunci semua itu ada di dua indera yang Anda miliki, mata dan telinga!

 Manusia dianugerahkan dua telinga dengan satu mulut agar manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Upayakan untuk terlatih mendengar setiap pembicaraan orang lain hingga ia selesai berbicara, sementara disaat yang sama kita berupaya untuk menahan mulut ini berbicara, apakah itu menyela pembicaraan orang, atau bahkan meminta orang lain tak meneruskan bicaranya. Padahal ia belum tuntas menyampaikan ide dan gagasannya.

 Ini adalah salah satu cara efektif untuk tetap menjaga perasaan istimewa seseorang. Ia merasa bahwa dirinya dipentingkan ketika orang yang diajak bicara mendengarkan dengan seksama, penuh perhatian, pandangan yang serius dan tak menunjukkan sedikitpun rasa bosan. Berlatih lah untuk melakukan hal ini, maka Anda telah mendapatkan dirinya secara tidak langsung. Indikasinya, ketika Anda berbicara, maka ia akan melakukan hal yang sama dengan Anda, yakni menganggap bahwa Anda itu istimewa dan setiap pembicaraan Anda menjadi penting untuk didengarkan.

 Selain itu, usahakan berbicara sesuatu yang baik dengan cara yang baik pula, ini akan terdengar menyejukkan di telinga orang yang mendengarkan Anda. Dengan berbicara yang baik menggunakan cara yang baik, Anda juga telah membantu seseorang untuk merasa diperlakukan secara baik pula.

 Berusaha untuk berbicara yang baik dan disaat yang sama juga belajar untuk mendengarkan setiap pembicaraan lawan bicara dengan sabar dan penuh perhatian, tidak lah mudah. Perlu latihan dan kerja keras untuk bisa menerapkannya. Ini lah tantangannya, karena sifat dasar manusia itu sendiri yang merasa dirinya istimewa dan ingin dipentingkan sering memaksa Anda untuk ingin terus berbicara dan berharap orang lain mau mendengarkan, karena Anda merasa penting untuk didengarkan. Jadi, sesungguhnya amatlah berat menerapkan cara ini. Di satu sisi Anda ingin merasa tetap istimewa dan ingin dipentingkan, di sisi lain Anda harus menghargai perasaan istimewa dan ingin dipentingkan milik orang lain. Namun demikian, dengan kesabaran dan kesungguhan, Anda pasti bisa melakukannya.

 Satu tips untuk Anda, ketika Anda mencoba sabar menahan ego Anda untuk merasa istimewa dan dipentingkan, sementara Anda tetap menjaga perasaan istimewa dan ingin dipentingkannya orang lain, justru disitulah letak keistimewaan Anda. Ya, dengan demikian Anda benar-benar telah menjadi orang yang istimewa. Yakinlah!

Kasih Sayang dalam Keluarga


Fakta-fakta yang ada dalam beberapa waktu terakhir ini menunjukkan cukup banyaknya peristiwa kriminalitas yang terjadi di lingkungan keluarga. Pelaku dan korbannya adalah anggota keluarga yang hidup dalam satu rumah, atau setidaknya masih ada hubungan keluarga. Secara umum kemunculan setiap kasus lebih banyak dipengaruhi faktor krisis: ekonomi, tingkat pendidikan, moral, dan sejenisnya.

Betapapun, fakta ini menunjukkan bahwa kasih sayang, cinta, kehangatan, telah hilang dari lingkungan keluarga, dan diganti oleh kecenderungan-kecenderungan syaithaniyah yang bersandarkan hawa nafsu duniawi yang sesaat dan semu. Rasulullah SAW mengajarkan, dalam keadaan apa pun, cinta dan kasih sayang mesti selalu ditumbuhkan di dalam lingkungan keluarga. Kondisi krisis tidak bisa menjadi alasan bagi luluhnya nuansa cinta, kasih sayang, dan kehangatan di tengah-tengah keluarga. Siti Aisyah mengisahkan, ''Suatu kali seorang perempuan miskin mendatangiku dan ia membawa dua anak perempuannya yang masih kecil.

Aku memberinya tiga buah kurma. Ia memberikan dua butir kepada dua anaknya. Niatnya, ia akan memakan sisanya. Tetapi, kedua anaknya berebut sisa kurma yang masih di tangannya, sehingga kurma itu jatuh. Perempuan itu, akhirnya, tidak makan sebutir pun. Aku melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah, dan beliau bersabda, 'Barangsiapa yang mendapat cobaan dan menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari jilatan api neraka'.'' (HR Bukhari, Muslim, dan Turmudzi).

Hadis di atas menegaskan bahwa dalam kondisi krisis seperti apa pun, rasa kasih sayang pada anak, tanggung jawab untuk melindungi anak, dan seterusnya, tetap merupakan kewajiban, dan Allah akan memberi anugerah yang besar kepada mereka yang bisa mewujudkan ajaran ini dengan penuh rasa pengabdian dan ikhlas. Tentu saja, demikian pula sebaliknya, anak juga harus tetap menunjukkan rasa baktinya, kasih sayangnya, kepada orang tua mereka, sebagai wujud rasa syukur kita kepada mereka yang telah dengan susah payah (terutama ibu) mengasuh kita sewaktu kecil.

Jasa orang tua sangatlah besar bagi kehidupan kita, sampai-sampai Umar bin Khattab berkata, ''Kamu tidak akan pernah bisa membalas jasa orang tuamu, meskipun keduanya menjadi budak dan kamu membebaskannya.'' Tidak hanya antara anak dan orang tua, atau sebaliknya, tetapi rasa kasih sayang harus ditumbuhkan antarsaudara, dari yang paling dekat, yang dekat, kemudian yang jauh, dan seterusnya. Begitulah yang diajarkan Islam.

Peradaban suatu bangsa tumbuh dari lingkup terkecil dalam tatanan sosialnya: keluarga. Kondisi harmoni dan penuh cinta yang meliputi suatu keluarga akan berpengaruh bagi kondisi sekitarnya, yakni masyarakat yang lebih luas: bangsa. Kondisi bangsa akan senantiasa nyaman dan damai, jika kita ikut berperan mengelola dan menjaganya, mulai dari lingkup yang paling kecil, yaitu keluarga. Wallahu a'lam.

Hakikat Sebuah Jabatan


Suatu ketika, Abdurrahman bin Samurah diberi wasiat oleh Rasulullah SAW. Sabda beliau, ''Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah sekali-kali kamu meminta jabatan atau kekuasaan. Karena, jika engkau memperolehnya karena sebab meminta, maka engkau akan menanggung beban yang begitu berat. Tapi, jika ia engkau peroleh bukan karena engkau memintanya, maka engkau akan dibantu Allah dalam melaksanakannya.'' (HR. Abu Dawud).

Jabatan atau kedudukan, baik di pemerintahan, lembaga, atau bahkan di organisasi, adalah salah satu kenikmatan duniawi yang sering membuat orang silau. Banyak yang bermimpi mendapatkannya, meskipun harus menempuh cara-cara negatif yang dilarang agama. Dalam konteks ini, ada dua prototipe orang. Pertama, orang yang menggunakan segala macam cara guna meraih jabatan, meskipun mungkin merugikan diri sendiri maupun orang lain. Bagi orang seperti ini, jabatan adalah segalanya, karena ia dapat memberikan kenikmatan yang luar biasa besarnya.

Kedua, orang yang melihat 'biasa saja' terhadap jabatan, karena ia tahu jabatan atau kedudukan adalah tanggung jawab yang mesti dijaga sebaik mungkin. Untuk itu, ia akan berusaha semaksimal mungkin menggunakan jabatan itu untuk menciptakan kemaslahatan, tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk orang lain.

Dalam hal ini, agama sangat mengecam model orang yang ambisius terhadap jabatan. Jabatan yang mereka peroleh justru akan memberikan banyak kemudlaratan bagi orang lain ketimbang kemaslahatan. Model ini juga meniscayakan adanya banyak kecurangan dan ketidakjujuran yang berujung pada penggerogotan atau penyalahgunaan jabatan itu, demi meraih keuntungan pribadi semata. Jabatan bagi model ini adalah sebuah tujuan final yang harus diambil selagi sempat. Penghambaan terhadap jabatan, dengan demikian, menjadi inti dari segala gerak hidupnya.

Yang ideal adalah model kedua, yang justru jarang sekali kita temukan dalam kehidupan saat ini. Karena, ia meniscayakan adanya kejujuran, komitmen, kapabilitas, dan kesadaran akan tanggung jawab dalam menjalankannya. Jabatan di matanya adalah anugerah sekaligus amanah yang mesti disyukuri dalam bentuk kerja riil dan jelas, bertujuan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat.

Contoh model ini banyak kita temukan pada pribadi para sahabat Nabi SAW, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab, ketika mereka dilantik secara aklamasi oleh umat Islam menjadi khalifah. Mereka justru menangis, bukannya gembira, karena mereka tahu bagaimana beratnya memegang sebuah jabatan.

Jabatan, dengan demikian, seungguhnya bukanlah 'arena permainan' yang dapat diraih dengan berbagai macam cara, dan diselewengkan secara tidak bertanggung jawab. Jabatan adalah persoalan besar yang akan menjadi bahan pertanggungjawaban di akhirat kelak. Karena itu, tidak sepantasnyalah kita mengejar jabatan dengan segala cara. Namun, kalau kemudian kita diberi jabatan, maka itu harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya dan dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat.

Anugerah Terindah


Rasulullah SAW bersabda, ''Empat macam dari kebahagiaan manusia, yaitu istri yang salehah, anak yang berbakti, teman-temannya adalah orang-orang yang baik, dan mata pencahariannya berada dalam negaranya sendiri.'' (HR Dailami).

Salah satu hal yang dicari oleh setiap manusia dalam kehidupan ini adalah kebahagiaan, meskipun setiap orang berbeda indikatornya. Ada sebagian orang yang menilai kebahagiaan itu ketika memiliki harta yang banyak. Ada pula yang menilai kebahagiaan dengan pangkat dan jabatan yang diraihnya. Tetapi, bagi seorang Muslim, kebahagian itu bukan diukur dengan harta atau pangkat yang dimilikinya semata.

Kebahagian sejati bagi seorang Muslim, sebagaimana hadis di atas, adalah ketika hidup dalam lingkungan yang baik dan mudah, yaitu memiliki istri yang salehah, anak-anak yang berbakti, teman-teman yang baik, dan mata pencaharian mudah. Itulah anugerah terindah yang Allah berikan kepada manusia untuk kebahagiaannya. Istri yang salehah adalah seorang istri yang tidak hanya menjadi pendamping hidup, melainkan ia seorang teman diskusi dan teman yang selalu mengajak kepada kebaikan. Ia mengingatkan ketika lalai, menjadi peneguh ketika gundah, menjadi penerang ketika kegelapan, menjadi penyejuk ketika marah, menjaga kehormatannya, dan selalu taat kepada Allah dan rasul-Nya. Allah menggambarkan wanita salehah dalam firman-Nya: ''.... Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara.'' (QS 4: 34).

Bahkan, Rasulullah menggambarkan istri salehah sebagai perhiasan yang paling baik dan indah mengalahkan indahnya dunia ini. Anak-anak yang berbakti merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya. Mereka merupakan anak-anak yang saleh dan salehah, yang indah dan menyejukkan hati (qurrata a'yun). Mereka pun senantiasa berdoa: ''Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya (kedua orangtua), sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.'' (QS 17: 24). Memiliki anak-anak yang berbakti merupakan kebahagiaan dalam sebuah keluarga. Kebahagiaannya tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga di akhirat. Rasulullah mengajarkan bahwa doa anak yang saleh merupakan amalan yang tidak terputus walaupun orang tuanya sudah meninggal.

Teman yang baik adalah yang menjadi sahabat sejati, baik dalam sedih ataupun suka. Mereka tidak hanya menolong dalam kesusahan, tetapi juga menjadi pengingat ketika kita salah, menjadi pendorong semangat dalam kebaikan dan ketakwaan. Mata pencaharian merupakan sarana kita mencari nafkah. Jika mata pencaharian kita tidak jauh, maka kita tetap bisa berkumpul, menjaga, dan menyayangi keluarga.

Berkumpul dengan keluarga, menurut suatu pendapat umum, merupakan obat lelah setelah sibuk bekerja. Semoga Allah menganugerahi kita istri yang salehah, anak yang berbakti, teman yang baik, dan mata pencaharian yang dekat dan mudah. Semoga Allah terus membimbing dan menjadikan kita hamba-hamba yang bersyukur atas semua anugerah yang diberikan-Nya. Allahumma Amin. (Mulyana)

Berbagi dengan Orang Lain


Dalam satu hadis yang diterima dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ''Setiap datang hari yang baru, pada pagi harinya selalu turun dua malaikat ke bumi. Malaikat yang satu memohonkan kepada Allah, 'Ya Allah! Berilah tambahan rezeki bagi orang-orang yang mau berkorban membantu orang lain'.

Sedangkan malaikat yang satu lagi berseru kepada Allah, 'Ya Allah! Biarlah habis tiada berfaedah segala kekayaan orang-orang yang tidak mau membantu sesamanya'.'' (HR Bukhari dan Muslim). Dalam Islam ada satu ajaran yang penting untuk diketahui, bahwa pada setiap kelebihan harta terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan. Allah berfirman, ''Dan mereka yang dalam harta kekayaannya ada bagian yang sudah ditentukan, untuk orang miskin yang meminta dan orang yang tak meminta (tapi ia butuh).'' (QS Al-Ma'arif: 24-25).

Ini menunjukkan bahwa derajat kesalehan dalam beragama tidak hanya terkait dengan pelaksanaan ibadah yang bersifat formal, tetapi ada aspek lain yang harus diperhatikan, yaitu apakah kita telah menunaikan kewajiban sosial terhadap orang lain. Perintah berinfak dan berzakat, misalnya, bertujuan untuk mendidik kita agar menjauhi sifat mementingkan diri sendiri dan sebaliknya mewujudkan semangat berbagi dengan orang lain.

Memberikan kelebihan yang kita miliki kepada orang lain yang membutuhkan amat dianjurkan dalam Islam, seperti terungkap dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id yang memberitakan pada suatu perjalanan Rasulullah bersabda, ''Barangsiapa mempunyai kelebihan kendaraan hendaklah memberikan kepada orang yang tidak mempunyainya.

Dan barangsiapa mempunyai kelebihan perbekalan hendaklah memberikannya kepada yang kehabisan bekal.'' Di balik ungkapan tersebut tersimpul semangat penyelenggaraan kehidupan atas dasar sinergi dan kebersamaan. Berbagi dengan orang lain merupakan bentuk nyata dari keimanan dan rasa syukur pada Ilahi. Makin banyak orang ikut merasakan nikmat yang kita peroleh, itulah wujud kesyukuran yang diberi penilaian tertinggi. Dalam ajaran Islam, semangat itu diwujudkan dalam tiga kategori amal. Ada yang bersifat imperatif, yakni kewajiban berzakat; ada yang merupakan keharusan seperti infaq fi sabilillah; ada pula yang bersifat fakultatif seperti sedekah.

Di antara ciri orang bertakwa menurut Alquran ialah gemar menginfakkan harta dalam keadaan lapang maupun dalam kesempitan. Jika dicermati lebih jauh, ketakwaan dalam agama memiliki korelasi yang sangat erat dengan akhlak sosial. Di tengah maraknya sikap individualistik dan pengagungan nilai-nilai materi pada saat ini, setiap Muslim perlu berkaca pada nasihat Rasulullah, ''Manusia yang paling dicintai Allah ialah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. Amal yang paling utama ialah memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang yang beriman, melepaskannya dari rasa lapar, membebaskannya dari kesulitan, dan membayarkan utang-utangnya.''(HR Ibnu Hajar al-Asqalani).

Rabu, 14 Maret 2012

Apa Yang Kita Sombongkan?


Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja, ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya,

"Apa yang sedang Anda lakukan?"

Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya."

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga , sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain. Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi. Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka).

Inilah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati.

Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia.Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego. Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri.

Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

Be happy!

Investasi Seorang Ayah


Suatu hari suami saya rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang kebetulan mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu. Di sesela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih aktif itu sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga di masa senja usia. Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak balita, mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk itu saya merasa berterima kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? Inilah kira-kira kisah mereka.

Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah ke rumah anaknya yang bekerja di sana.

Di situlah awal pembicaraan "menyimpang" dimulai. Ia mengeluh. "Susah anak saya ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main. Kalau saya telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata 'jangan datang sekarang karena masih banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba'. Saya sering kecewa,tapi biarlah, yang penting saya bisa lihat cucu."

Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain. "Kalau Anda jarang bertemu dengan anak karena beda kota, itu masih dapat dimengerti," katanya. "Anak saya yang tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau ingin bertemu."

"Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon."

Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya mengengok anak laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika. Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya, "Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia?"

"Bayangkan! Kami menempuh perjalanan hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang." Apa yang digambarkan suami saya tentang mereka, adalah rasa kegetiran dan kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para profesional yang begitu berhasil dalam kariernya. Suami saya bertanya, "Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup seperti mereka?" Untuk menjawab itu, saya sodorkan kepada suami saya sebuah syair lagu berjudul "Cat's In the Cradle" karya Harry Chapin. Beberapa cuplikan syair tersebut saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan untuk konteks Indonesia.

".... Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah. Aku harus siap untuknya, hingga sibuk aku mencari nafkah sampai tak ingat kapan pertama kali ia belajar melangkah. Pun kapan ia belajar bicara dan mulai lucu bertingkah

Namun aku tahu betul ia pernah berkata, "Aku akan menjadi seperti Ayah kelak. Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak."

"Ayah, jam berapa nanti pulang?" "Aku tak tahu, Nak. Tapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama."

Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata, "Terima kasih atas hadiah bolanya, Ayah. Wah... kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana cara melempar bola, Yah?" "Tentu saja Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan sekarang.

" Ia hanya berkata, "Oh ...." Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak hilang, seraya berkata, "Aku akan seperti ayahku, Ya, betul aku akan sepertinya." "Ayah, jam berapa nanti pulang?"

"Aku tak tahu Nak, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama."

Suatu saat anakku pulang dari kuliah, begitu gagahnya ia, dan aku memanggilnya, "Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah." Dia menengok sebentar sambil tersenyum, "Ayah, yang aku perlu sekarang adalah meminjam mobil, mana kuncinya? Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji dengan kawan."

"Nak, jam berapa nanti pulang?" "Aku tak tahu Yah, tetapi kita akan punya waktu bersama nanti dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama." Aku sudah lama pensiun, dan anakku sudah lama pergi dari rumah. Suatu saat aku meneleponnya.

"Aku ingin bertemu denganmu, Nak." Ia bilang, "Tentu saja aku senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku tidak ada waktu. Ayah tahu,pekerjaanku begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang sedang flu. Tetapi senang bisa berbicara dengan Ayah, betul aku senang mendengar suara Ayah."

Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari: dia tumbuh besar persis seperti aku; ah betul, ternyata anakku persis seperti aku..." Rupanya prinsip investasi berlaku pula pada keluarga dan anak. Seorang investor yang berhasil mendapatkan return yang tinggi, adalah yang selalu peduli dan menjaga apa yang diinvestasikannya. Saya sering melantunkan cuplikan syair tersebut dalam bahasa aslinya, "I'm gonna be like you, Dad, you know I'm gonna be like you..." kapan saja ketika suami saya sudah mulai melampaui batas kesibukannya. Ternyata cukup manjur. "Lutfi ... ayo kita kasih makan kelinci," katanya kepada anak kami yang berusia 3 tahun...

Jendela Rumah Sakit


Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu. Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.

Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan. Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

"Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah." Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.

Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk didekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah. Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu. Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.

Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!

Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun. "Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup" kata perawat itu.

Renungan :

Kita percaya, setiap kata selalu bermakna bagi setiap orang yang mendengarnya. Setiap kata, adalah layaknya pemicu, yang mampu menelisik sisi terdalam hati manusia, dan membuat kita melakukan sesuatu. Kata-kata, akan selalu memacu dan memicu kita untuk menggerakkan setiap anggota tubuh kita, dalam berpikir, dan bertindak.

Kita percaya, dalam kata-kata, tersimpan kekuatan yang sangat kuat. Dan kita telah sama-sama melihatnya dalam cerita tadi. Kekuatan kata-kata, akan selalu hadir pada kita yang percaya.

Kita percaya, kata-kata yang santun, sopan, penuh dengan motivasi, bernilai dukungan, memberikan kontribusi positif dalam setiap langkah manusia. Ujaran-ujaran yang bersemangat, tutur kata yang membangun, selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita. Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Menyampaikan keburukan, sebanding dengan setengah kemuraman, namun, menyampaikan kebahagiaan akan melipatgandakan kebahagiaan itu sendiri.

Ayah ... Ibu .... Cium Aku Dong



Fenomena makin maraknya anak jalanan bukan semata karena faktor ekonomi lemah para orang tua, namun ternyata tidak sedikit dari anak jalanan itu adalah anak-anak dari keluarga yang mapan ekonominya kendati ada perbedaan tempat atau wilayah tongkrongan mereka, ada yang nongkrong dan menikmati kebebasannya di bawah jembatan, pinggir trotoar dan lampu merah namun ada juga yang menikmati kebebasan dan mencari kasih sayang yang hilang di mal-mal, discotik dan hotel.

Kedua kelompok tersebut hakekatnya adalah sama ketika tali kendali kasih sayang dari para orang tua terlepas karena sebuah alasan klasik SIBUK. Padahal sebenarnya anak-anak kita itu membutuhkan sesuatu yang kadang terlihat oleh kita sesuatu yang sepele tetapi bagi anak kita adalah sangat-sangat berharga, kisah dibawah ini adalah salah satu ilustrasi yang layak kita renungkan.

Ada seorang gadis kecil bernama Sari. Ayah Sari bekerja enam hari dalam seminggu, dan sering kali sudah lelah saat pulang dari kantor. Ibu Sari bekerja sama kerasnya mengurus keluarga mereka memasak, mencuci dan mengerjakan banyak tugas rumah tangga lainnya.

Mereka keluarga baik-baik dan hidup mereka nyaman. Hanya ada satu kekurangan, tapi Sari tidak menyadarinya.

Suatu hari, ketika berusia sembilan tahun, ia menginap dirumah temannya, Dewi, untuk pertama kalinya. Ketika waktu tidur tiba, ibu Dewi mengantar dua anak itu ketempat tidur dam memberikan ciuman dan salam kepada mereka berdua.

"Ibu sayang padamu, nak," kata ibu Dewi.

"Aku juga sayang Ibu," gumam Dewi.

Sari sangat heran, hingga tak bisa tidur. Tak pernah ada yang memberikan ciuman apappun padanya..
Juga tak ada yang pernah mengatakan menyayanginya. Sepanjang malam ia berbaring sambil berpikir, Mestinya memang seperti itu ..

Ketika ia pulang, orang tuanya tampak senang melihatnya.

"Kau senang di rumah Dewi?" tanya ibunya.

"Rumah ini sepi sekali tanpa kau," kata ayahnya.

Sari tidak menjawab. Ia lari ke kamarnya. Ia benci pada orangtunya. Kenapa mereka tak pernah menciumnya? Kenapa mereka tak pernah memeluknya atau mengatakan menyayanginya? Apa mereka tidak menyayanginya?. Ingin rasanya ia lari dari rumah, dan tinggal bersama ibu Dewi.

Mungkin ada kekeliruan, apakah orang tuanya ini bukanlah orang tua kandungnya. Mungkin ibunya yang asli adalah ibu Dewi. Malam itu, sebelum tidur, ia mendatangi orangtunya.

"Selamat malam,"katanya.

Ayahnya,yang sedang membaca koran, menoleh.

"Selamat malam," sahut ayahnya.

Ibu Sari meletakkan jahitannya dan tersenyum.
"Selamat malam, Sari."

Tak ada yang bergerak. Sari tidak tahan lagi.

"Kenapa aku tidak pernah diberi ciuman?" tanyanya.

Ibunya tampak bingung.

"Ya....? , apa sari?  " tanya sang ibu, sambil  terbata-bata, ibu Sari menjawab " eemmm, perasaan dulu ketika ibu masih kecil tidak ada yang pernah mencium Ibu,  mungkin itu saja kali nak."

Sari menangis sampai tertidur. Selama berhari-hari ia merasa marah. Akhirnya ia memutuskan untuk kabur. Ia akan pergi ke rumah Dewi dan tinggal bersama mereka. Ia tidak akan pernah kembali kepada orang tuanya yang tidak pernah menyayanginya. Ia mengemasi ranselnya dan pergi diam-diam. Tapi begitu tiba di rumah Dewi, ia tidak berani masuk. Ia merasa takkan ada yang mempercayainya. Ia takkan diizinkan tinggal bersama orang tua Dewi.

Maka ia membatalkan rencananya dan pergi. Segalanya terasa kosong dan tidak menyenangkan.
Ia takkan pernah mempunyai keluarga seperti keluarga Dewi. Ia terjebak selamanya bersama orang tua yang paling buruk dan paling tak punya rasa sayang di dunia ini. Sari tidak langsung pulang, tapi pergi ke taman dan duduk di bangku.

Ia duduk lama, sambil berpikir,hingga hari gelap. Sekonyong-konyong ia mendapat gagasan. Rencananya pasti berhasil . Ia kan membuatnya berhasil. Ketika ia masuk ke rumahnya, ayahnya sedang menelpon. Sang ayah langsung menutup telepon. ibunya sedang duduk dengan ekspresi cemas. Begitu Sari masuk, ibunya berseru," Dari mana saja kamu? Kami cemas sekali!".

Sari tidak menjawab, melainkan menghampiri ibunya dan memberikan ciuman di pipi, sambil berkata,"Aku sayang padamu, Bu."

Ibunya sangat terperanjat, hingga tak bisa bicara.

Lalu Sari menghampiri ayahnya dan memeluknya sambil berkata, "Assalaamu'alaikum, Yah. Aku sayang padamu,"

Lalu ia pergi tidur, meninggalkan kedua orangtunya yang terperangah di dapur.
Keesokan paginya, ketika turun untuk sarapan, ia memberikan ciuman lagi pada ayah dan ibunya. Di halte bus, ia berjingkat dan mengecup ibunya.

"I....bu ,Aku sayang padamu." katanya.

Itulah yang dilakukan Sari setiap hari selama setiap minggu dan setiap bulan. Kadang-kadang orang tuanya menarik diri darinya dengan kaku dan canggung. Kadang-kadang mereka hanya tertawa. Tapi mereka tak pernah membalas ciumannya. Namun Sari tidak putus asa.

Ia telah membuat rencana, dan ia menjalaninya dengan konsisten. Lalu suatu malam ia lupa mencium ibunya sebelum tidur. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dan ibunya masuk.

"Mana ciuman untukku?" tanya ibunya, pura-pura marah.

Sari duduk tegak.

"Oh, aku lupa," sahutnya. Lalu ia mencium ibunya.

"Aku sayang padalmu, Bu." Kemudian ia berbaring lagi.

"Assalaamu'alaikum, ibu,"katanya, lalu memejamkan mata.

Tapi ibunya tidak segera keluar.

Akhirnya ibunya berkata. "Aku juga sayang padamu, nak."

Setelah itu ibunya membungkuk dan mengecup pipi Sari.

"Dan jangan pernah lupa menciumku lagi," katanya dengan nada dibuat tegas. Sari tertawa.

"Baiklah,"katanya.

Dan ia memang tak pernah lupa lagi. Bertahun-tahun kemudian, Sari mempunyai anak sendiri, dan ia selalu memberikan ciuman pada bayi itu, sampai katanya pipi mungil bayinya menjadi merah.

Dan setiap kali ia pulang ke rumah, yang pertama dikatakan ibunya adalah, "Mana ciuman untukku?"
Dan kalau sudah waktunya Sari pulang, ibunya akan berkata, "Aku sayang padamu. Kau tahu itu, bukan?", "Ya,Bu," kata Sari. "Sejak dulu aku sudah tahu." .

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari:

"Bahwa Nabi Shallahu'alaihi wasallam mencium Hasan bin Ali, dan disamping beliau ada Aqro' bin Habis at-Tamimy, maka berkatalah Aqro': Sesungguhnya aku punya 10 orang anak tetapi tidak seorangpun yang pernah kucium. Lalu Rasulullah Shallahu'alaihi wasallam melihat kepadanya seraya berkata : Barangsiapa yang tidak mau menyayangi maka ia tidak akan disayangi".

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu'anha, ia berkata:

"Telah datang seorang badui kepada Nabi Shallahu'alaihi wasallam dan ia berkata: kalian menciumi anak-anak kecil, tapi kami tidak pernah menciumi meraka. Berkatalah Nabi Shallahu'alaihi wasallam: Aku tak kuasa (memberi kasih sayang di hati kalian) jika Allah telah mencabut kasih sayang itu dari hati kalian.

Selasa, 13 Maret 2012

TEMPE OH TEMPE
(Allah lebih tahu apa yang kita butuh saat ini)

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe.

Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup.

Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. ″Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. ..″ demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh.Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.

Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. ″Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini.

Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku...″ Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.

Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Diayakin, Allah pasti sedang ″memproses″ doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi.

Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. ″Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah.Bantulah aku, kabulkan doaku...″

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe.Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi.

Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai tersebut. ″Keajaiban Tuhan akan datang... pasti,″ yakinnya.

Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin,″tangan″ Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. ″Pasti sekarang telah jadi tempe!″ batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Air mata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Apakah Tuhan ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar... merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya.

Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan ″teman-temannya″ sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. ″Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya?″

Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. ″Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe...″ Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. ″jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe...″

″Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?″ tanya perempuan itu lagi.

Kepanikan melandanya lagi. ″Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?″ ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, sahabat?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! ″Alhamdulillah!″ pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.

Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. ″Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?″

″Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Shalauddin, yang kuliah S2 di Australia

ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?″

-----------------------------------------------------------------------------

Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan ″memaksakan″ Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa dan merasa ditinggalkan Padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah SEMPURNA.

Banyak orang yang merasa frustasi karena kenyataan mereka tidak sesuai dengan impian. Sebagai contoh, ada seorang anak yang ingin kuliah di Universitas A, tapi nyatanya biaya tidak mencukupi.  Atau, mereka yg merantau ke kota besar, bermimpi ingin mendapatkan pekerjaan berkelas nasional bahkan internasional, tapi nyatanya yang didapatkan hanyalah pekerjaan biasa-biasa saja & apa adanya.

Ada juga seorang pengusaha, yg mungkin mengharapkan kenaikan profit 10 kali, malah mengalami kebangkrutan. Apa yang kita harapkan, kadang memang tidak sesuai dengan kenyataan. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Berikut adalah 3 langkah atau tips yang bisa Kita lakukan saat mimpi tidak sesuai dengan kenyataan:

1. Bertindaklah selalu secara fleksibel dan dinamis  Jika Anda betul-betul ingin menggapai kesuksesan, maka diperlukan *kesiapan* untuk bisa bertindak secara fleksible dan dinamis terhadap setiap perubahan yang terjadi. Saat ada badai atau angin topan yang besar, tidak jarang kita melihat pohon yang memiliki batang yang sangat besar  tumbang! Apa sebab?  Sebab mereka tidak kuat menahan beban  yang diterima. Namun coba tengoklah bambu! Karena batangnya yang lentur, maka bambu bisa fleksibel bergerak ke segala arah, dan jarang tumbang!

Nah, begitu pun dengan kita! Jika kita bertindak dan berpikir dinamis dan juga fleksibel, maka kita akan lebih tahan dalam menghadapi tantangan dan perubahan serta masalah yang datang.

2. Berpikirlah bahwa INILAH yang terbaik  untuk kita!, Yakinlah  bahwa apa yang sedang terjadi adalah yang terbaik untuk kita. Kita tidak pernah tahu skenario yang telah ditetapkan-Nya. Karena, segala sesuatu yang menurut logika kita baik, bisa jadi justru sebaliknya di mata Tuhan! Dan jangan pernah berhenti untuk berdo’a sebagaimana nenek Penjual Tempe diatas, sudah jelas-jelas pertolongan sudah di depan mata, tapi dia tetap berdo’a.

3. Siapkan MENTAL PEMENANG! Saat kita mengalami kegagalan, lebih baik instropeksi diri daripada menyalahkan takdir. Siapa tahu, kita memang belum siap jadi pemenang! Bisa jadi kesuksesan hanya akan membuat kita menjadi sombong, dan karena saking sayangnya Tuhan kepada kita, Ia tidak mau hamba-Nya berbuat dosa.

Rejeki dan kemenangan itu sungguh tidak terkira banyaknya dari Tuhan, masih banyak yang menggantung di langit! : Sekarang tinggal bagaimana cara kita! Apakah mau meraihnya? atau mengharapkan turun dengan sendirinya?

Saya sarankan, jangan pernah memilih yang kedua,  Kita semua tahu bahwa yang namanya kemenangan itu seringkali dimiliki oleh mereka yang tdk pernah berhenti berusaha!

Terkadang Tuhan menutup pintu yang satu, untuk membuka pintu yang lain.

100-10 = 7090,  Benar?  Ya, Pasti!?????

Suatu hari seorang Ayah memberikan soal matematika kepada anaknya yang masih duduk di Sekolah Dasar tentang operasi Pengurangan, Ayo nak coba soal ini dijawab ya :

100-10 =?

100-20 =?

100-50 =?

Gampang sekali yah soalnya, yang no.1 = 90, no.2 = 80 dan no.3 = 50, jawab sang anak

Betul sekali sayang jawabanmu, itulah ilmu Matematika pada umumnya yang kita pelajari selama ini, sekarang Ayah akan mengajarimu bagaimana Matematika Tuhan, coba sekarang lihat soal dan jawaban yang ada dibawah ini :

100-10 = 7090

100-20 = 14080

100-50 = 35050

Bagaimana menurut kamu sayang? betul atau salah?, menurut saya ya aneh yah, jawab sang anak. Itulah matematika Tuhan sayangku, jawaban itu PASTI Benar tidak mungkin salah dan itu boleh kita uji kebenarannya melalui teori dan praktek SEDEKAH, maksudnya apa ayah?

Ayahandanya berkata ″bersedakahlah kamu selagi mampu dan bisa, dan cobalah untuk terus meningkatkan kadar dan kualitasnya″. Hari ini didalam dompet ayah ada beberapa lembar uang 500, 1000an, 5.000an dan 10.000an. ″Mana yang akan kamu berikan untuk sedekah, nak?″ sang anak menjawab,″500 ayah!″ karena biasanya semua orang yang ia tahu akan memberikan yg terkecil untuk disedekahkan. Ayahanda beliau pun tersenyum. ″kenapa 500?″ kembali sang ayah bertanya. ″Kenapa bukan 10.000?″

Pertanyaan itu membuat anaknya tertegun dan mengernyitkan dahinya.

Sang ayah pun melanjutkan ″Lebih berat mana, ngasih 500 perak atau 10.000?″. Ia terdiam dan menjawab ″lebih berat 10.000 ayah″.

Kembali sang Ayah tersenyum dan berkata :

″Anakku, Semakin besar uang yang Allah titipkan kepada kita, maka semakin berat juga amanah yang ada dibelakangnya. Kita merasa berat memberi karena belum ada keikhlasan yang sempurna. Belajarlah untuk ikhlas, semakin besar semakin baik. Semakin besar jumlah yang bisa kita keluarkan, maka beban kita di dunia akan semakin ringan, dan bagian yang kita keluarkan itu akan menjelma menjadi nilai yang tak terhingga yang akan membantu kita di akherat kelak″.

Mari kita coba sejenak tengok Al-Qur’an,

″Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. ″ (QS. 2:261)

Bayangkan dibalas dengan 700 kali lipat!!

jadi kalau 100-10 = 90

10 dilipat gandakan menjadi: 10 x 700 = 7000

TOTAL AKHIR = 7000 + 90 = 7090

Ada yang bertanya, jadi kalau saya sedekahkan Rp.10.000, maka saya akan mendapatkan kembali Rp.700.000??  Semudah itu?  Ya! Silahkan.

Yang perlu diingat adalah :  IKHLAS.. IKHLAS.. dan IKHLAS..

Tetapi Kadang matematika Tuhan ini tidak kasat mata. Tidak melulu uang diganti dengan uang. Tetapi Allah Yang Maha Suci dengan Kesempurnaan-Nya juga Maha Mengetahui mana yang terbaik dan apa yang sedang dibutuhkan oleh hamba-Nya saat itu. Bisa jadi Diganti dengan keselamatan dijalan, bertahun-tahun gak pernah sakit, mudah cari kerja, kemudahan berusaha, kebahagiaan keluarga, anak yang berbakti, ditemukan jodohnya dan lain sebagainya.

Semoga kita senantiasa IKHLAS.. IKHLAS.. dan IKHLAS

Ayah ... Maaf Boleh Aku Beli Waktumu?

Diantara tugas-tugas  terberat  yang kita rasakan sebagai Ayah dan Ibu adalah bekerjasama untuk mendidik Anak SECARA LANGSUNG agar anak-anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholihah, menampilkan keteladanan yang baik selama bersama mereka, memberikan perhatian dan waktu yang cukup untuk mereka, menemani belajar dan bermain mereka, serta mengantar tidur mereka dengan cerita indah penuh hikmah. Inilah kisah untuk kita renungkan bersama bagi kita yang masih berprinsip  ‘waktu adalah uang‘.

Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama akan kedatangan ayahnya pulang kerja.

″Kok, belum tidur?″ sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab,″Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?″

″Lho, tumben, kok nanya gaji  Ayah? Mau minta uang lagi, ya?″

″Ah, enggak. Pengen tahu aja.″

″Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,- . Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?″

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.

″Kalau satu hari ayah dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp. 40.000,- dong,″ katanya.

″Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,″ perintah Rudi.

Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya,″Ayah, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- nggak?″

″Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.″

″Tapi, Ayah...″

Kesabaran Rudi habis. ″Ayah bilang tidur!″ hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata,″Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok' kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.″

″Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama satu minggu ini.″

″Iya, iya, tapi buat apa?″ tanya Rudi lembut.

″Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp. 15.000,- . Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp. 40.000,- , maka setengah jam harus Rp. 20.000,- . Duit tabunganku kurang Rp. 5.000,- . Makanya aku mau pinjam dari Ayah,″ kata Imron polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat, air matanya mengalir deras, menyesali segala ketidakberdayaannya.

Betapa setiap detik kasih sayang Allah telah kita rasakan, sesungguhnya adalah kita diperintah untuk membagi kasih sayang itu kepada orang-orang yang terdekat dengan kita, kepada orang-orang yang kehilangan kasih sayang dan kepada seluruh makhluq di muka Bumi ini, sebagai wujud manifetasi tugas kita sebagai Wakil Allah di muka Bumi.

Andai tugas yang membuat kita menjadi sering meninggalkan buah hati kita, maka jangan sampai  lupa disetiap lelah dan dahaga kita terselip do’a untuk sang buah hati kita, terutama disetiap usai kita beribadah dalam bentuk apapun. 

Senin, 12 Maret 2012

Sekantong Tahi Sapi

Bayangkan di suatu pagi, ada seorang tetangga yang memberi Anda sekantong tahi sapi. Tanpa basa basi, langsung saja kantong tadi diletakkan di depan rumah.

Bagi mereka yang sentimen dengan tetangga, mala petakalah akhir dari kejadian ini. Namun, bagi mereka yang menempatkan pemberian sebagai sebuah kemuliaan, maka tahi sapi tadi bisa menjadi awal persahabatan.

Nah, Anda dan saya juga sedang diberi tahi sapi (baca : krisis). Persoalannya, apakah krisis ini akan menjadi awal petaka atau awal kemajuan, sangat ditentukan oleh bagaimana kita menempatkan krisis.

Salah satu karya terbaik Deepak Chopra adalah Ageless Body, Timeless Mind. Di sini penyembuh ini bertutur tentang bagaimana hidup awet muda. Fundamental dalam tesis Chopra, tubuh ini terbuat dari pengalaman-pengalaman yang didagingkan (dimasukkan ke dalam tubuh).

Sebagai salah satu bukti dari tesis terakhir, Chopra mengutip pengalaman seorang Ibu yang baru menerima sumbangan jantung dari orang lain. Begitu keluar dari rumah sakit, sang Ibu meminta dua hal yang tidak pernah disukai sebelumnya : bir dan ayam goreng. Setelah diselidik, ternyata donatur jantung yang telah meninggal, memiliki hobi berat meminum bir sambil memakan ayam goreng.

Pengalaman terakhir mengingatkan saya dengan pendapat Norman Cousin yang pernah menyebut bahwa “kepercayaan itu menciptakan biologi“. Ini berarti, garis batas antara biologi dan psikologi sebenarnya sangat dan teramat tipis-kalau tidak mau dikatakan tidak ada.

Semua ini berati, cara kita menempatkan krisis, tidak hanya terkait dengan sukses gagal di hari ini. Lebih dari itu, kita sedang mendagingkan serangkaian sistim nilai ke dalam tubuh kita. Untuk kemudian, memberi pengaruh yang amat besar ke dalam rautan wajah dan tubuh kita kemudian.

Coba cermati ciri-ciri manusia awet muda dan panjang umur sebagaimana ditemukan oleh Chopra. Dari meraup kesenangan dari kegiatan sehari-hari, menganggap hidup bermakna, yakin telah mencapai sasaran utama, menganut citra diri positif, sampai dengan optimis.

Semuanya menunjukkan upaya membadankan sistim nilai positif. Larry Scherwitz dari Universitas California pernah merekam hasil percakapan dengan 600 pria. Sepertiganya mengidap penyakit jantung, dan sisanya sehat-sehat saja. Scherwitz menemukan, pria yang menggunakan kata ganti “saya” lebih banyak dari rata-rata orang, mempunyai resiko kena serangan jantung lebih tinggi.

Pengalaman saya juga menunjukkan hal yang sama. Dari ratusan eksekutif yang pernah dikumpulkan karangannya, mereka yang otoriter, egois dan mau menang sendiri, menggunakan kata ganti “saya” jauh lebih banyak dibandingkan yang lain. Chopra juga menemukan hal yang mirip, angka kematian karena kanker dan penyakit jantung terbukti lebih tinggi diantara orang yang mengalami jiwa murung, dan lebih rendah diantara orang yang mempunyai maksud yang tegas serta jiwa yang sehat.

Dari penemuan-penemuan semacam ini, Scherwitz merekomendasikan untuk semakin membuka hati kepada orang lain. Salah seorang responden Scherwitz yang umurnya sudah tua namun memiliki jantung yang amat sehat berargumen : “seseorang yang terbuka dan penuh cinta akan menua dengan baik“.

Nah, lebih dari sekadar terbuka terhadap orang lain, kita juga memerlukan keterbukaan dalam memandang kehidupan. Persis seperti kasus tetangga yang memberi sekantong tahi sapi. Keterbukaan dan kesediaan untuk mencintai, membuat semua kejadian kehidupan-dari dapat tahi sapi sampai dengan berlian-menjadi penuh dengan warna keindahan.

Egoisme-sebagaimana tercermin dari banyaknya penggunaan kata saya-memang tidak selalu buruk. Namun, ia kerap membadankan serangkaian nilai, yang membuat badan ini cepat tua, lapuk serta rentan penyakit.

Meminjam hasil sebuah penemuan di dunia kedokteran, kemanapun perginya fikiran, senantiasa ada bahan kimia yang menyertainya. Atau keadaan-keadaan mental yang murung dirubah menjadi bahan-bahan kimia yang menimbulkan penyakit. Demikian juga sebaliknya.

Belajar dari semua ini, dibandingkan dengan mengumpat dan memaki tahi sapi yang bernama krisis, saya mendidik diri untuk menempatkan krisis sebagai “pupuk“-nya kehidupan.

Beberapa periode lalu, RUPS sebuah perusahaan besar menunjuk saya sebagai direktur SDM. Awalnya, tentu saja ini sebuah berkah yang dirayakan oleh keluarga saya. Sebab, sebelah kaki menjadi manusia bebas (konsultan, penulis dan pembicara publik) namun mengalami siklus keuangan yang naik turun, sebelah kaki jadi eksekutif puncak dengan siklus keuangan yang pasti dan menjanjikan.

Sayangnya, saya kehilangan dua kemewahan : menjadi raja bagi waktu, dan kemewahan hanya memberi saran tanpa perlu memantau pelaksanaan dan tanggungjawab.

Akibat dari kehilangan ini, saya sempat mengalami gejala insomnia (susah tidur). Belakangan, setelah membuka-buka lagi khasanah tentang fikiran yang memproduksi bahan kimia dalam tubuh, semua ini saya rombak secara perlahan. Belum sempurna memang! Yang jelas, ritme tidur saya sudah kembali ke sedia kala.

Kembali ke cerita awal tentang sekantong tahi sapi, Anda dan saya setiap hari ada yang membawakan “tahi sapi“. Mirip dengan tahi sapi, kita tidak bisa merubah kehidupan. Akan tetapi, kita bisa merubah diri bagaimana mesti melihat dan menempatkan kehidupan.

Sadar akan penemuan bahwa keyakinan memproduksi biologi, saya memilih untuk melihat segi positif dari tahi sapi. Terserah Anda!.

Tak Seorangpun yang Sempurna

Ini kisah pertemuan kembali dua sahabat yang sudah puluhan tahun berpisah. Mereka merindukan satu sama lain. Mereka bercerita, bersenda sambil minum kopi di sebuah café'. Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal-soal nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini.

″Mengapa sampai sekarang kau belum menikah?″ Ujar Latif kepada temannya Borhan yang sampai sekarang masih membujang.

″Hmmm...sebenarnya sampai sekarang ini aku masih belum bertemu dengan seorang wanita yang sempurna. Itulah sebabnya aku masih membujang. Dulu waktu aku bekerja aku berjumpa dengan seorang wanita yang cantik dan bijak. Aku fikir itulah wanita yang ideal untuk aku dan sesuai dijadikan isteri.″

″Namun tidak lama selepas mengenalinya..ketika hubungan semakin dekat baru aku tahu dia sebenarnya amat sombong. Hubungan kami putus sampai di situ″

″Setelah itu aku bertemu seorang perempaun yang cantik jelita, ramah dan dermawan. Pada pertemuan pertama aku begitu takjub. Jantungku berdenyut kencang dan ketika itu aku pun berfikir bahwa inilah wanita idealku. Namun selepas mengenalinya dengan lebih dekat baru aku tahu banyak tingkahlakunya yang tak baik dan tidak bertanggung jawab.″

″Kemudian, aku bertemu dengan seorang wanita yang manis, baik, periang dan pintar. Dia sangat menyenangkan bila diajak berbicara. Selalu menyambung pembicaraan kami dan penuh humor. Tapi terakhir aku ketahui ia dari keluarga yang berpecah belah dan selalu meminta di luar kemampuan. Akhirnya kami berpisah.″

″Aku terus mencari, namun sering mendapati ada kekurangan dan kelemahan pada setiap wanita yang aku temui. Hingga pada suatu hari, aku bertemu dengan wanita ideal yang aku dambakan selama ini. Dia begitu cantik, pintar, baik hati, dermawan dan penuh humor. Dia juga sangat perhatian dan menyayangi orang lain. Aku fikir inilah pendamping hidup yang dikurniakan oleh Tuhan untuk aku...″

″Kemudian bagaimana?″ kata Latif tidak sabar melihat Borhan diam seketika.

″ Apa yang terjadi? Bagaimana hubungan kau dengan dia sekarang?″ tanya Latif lagi sewaktu mendapati Borhan terus diam.

Kemudian....Borhan bersuara perlahan,″Sebenarnya beberapa hari lalu baru aku mengetahui bahawa wanita itu juga sedang mencari seorang lelaki yang sempurna...″

Faham dengan apa yg tersirat di atas?

No body's Perfect!

Jangan menyia-siakan siapapun yang ada di hadapan kita.

Belum tentu kita akan mendapat lebih baik daripada apa yang kita ada sekarang.

Kalau kita mau mencari kesempurnaan, cermin dahulu diri, apakah sudah sempurna di mata orang lain.

Wahai Lelaki, luruskan wanita dengan jalan yang ditunjukkan Allah. Didiklah mereka dengan panduan daripada-Nya.

Jangan coba jinakkan mereka dengan harta, karena nanti mereka semakin liar.

Jangan menghibur mereka dengan kecantikan, karena nantinya mereka yang semakin menderita.

Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal … karena di situlah puncak kekuatan dunia.

Akal wanita setipis rambutnya, tebalkan ia dengan ilmu.

Hatinya serapuh kaca, kuatkanlah dengan iman.

Wanita tanpa iman, ilmu dan akhlak mereka tidak akan lurus bahkan membengkok.

Bila wanita durhaka, dunia lelaki akan huru-hara.

Lelaki pula janganlah terlalu mengharapkan ketaatan … tetapi binalah kepimpinan.

Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Ilahi, pimpinlah diri sendiri kepada-Nya.

Jinakkan diri kepada Allah, niscaya jinaklah segala di bawah pimpinanmu.

Jangan mengharapkan isteri semulia Fatimah Az-Zahra, seandainya peribadi tidak sehebat Sayidina Ali Karamallahu Wajhah.....

Begitu jugalah sebaliknya.

Mencari Solusi dengan MEMBERI

Ternyata untuk mencari solusi dari kemelut masalah yang menyelimuti disetiap langkah kehidupan kita tidak harus selalu dengan upaya dan kerja keras untuk mendapatkan segala yang kita inginkan untuk keluar dari masalah itu, tetapi bisa jadi dengan memberikan sebagian dari apa yang dikaruniakan kepada kita, kita akan mendapatkan solusi yang selama ini kita cari.
Dibawah ini sebuah ilustrasi Sunnatullah yang dapat menginspirasi kita dalam mengambil kebijakan untuk keluar dari setiap masalah yang sedang kita hadapi.
Dua anak kecil, kakak adik, tampak sibuk di sebuah pojok pekarangan rumah. Salah satu dari mereka terlihat menelungkup seperti mengambil sesuatu dari balik lubang kecil. Sementara yang satunya lagi begitu serius memperhatikan sang kakak. Sambil sesekali ikut melongok ke arah lubang, tangan kanannya tetap erat mencekal ranting kecil.
″Dapat, Kak?″ ujar sang adik menampakkan wajah penasaran.
″Belum, Dik. Lubangnya dalam sekali!″ jawab sang kakak yang masih ingin mencoba merogohkan tangannya lebih dalam ke pangkal lubang.
Rupanya, dua anak itu sedang berusaha mengambil sebuah bola pimpong yang masuk ke lubang. Tibalah giliran sang adik mengorek-ngorek lubang dengan rantingnya. Ia berharap, bola pimpong bisa tersangkut di ujung ranting dan tercungkil keluar lubang. Tapi, selalu saja ia gagal.
Di tengah kebingungan itu, seorang ibu menghampiri mereka. Ia melongok-longok mencari tahu apa yang sedang dilakukan dua anaknya dengan sebuah lubang. Tak lama kemudian, sang ibu pun mengangguk pelan.
″Belum berhasil, Nak?″ tanya sang ibu sambil memberikan isyarat kehadirannya.
″Belum, Bu. Lubangnya dalam sekali!″ ujar kedua bocah itu memperlihatkan keputusasaan.
″Nak,″ ujar sang ibu sambil memegang dua pundak anak-anaknya. ″Coba kau isikan air ke lubang. Insya Allah, lubang akan memberikan kalian bola!″
Mencari solusi dalam problematika hidup tak ubahnya dengan upaya mengeluarkan sesuatu yang kita inginkan dari dalam lubang yang dalam dan gelap. Butuh cara bijaksana agar yang kita inginkan bisa kita dapatkan dengan mudah.
Sayangnya, tak semua kita mampu bijaksana menyikapi lubang problematika hidup tersebut. TAK BANYAK YANG MEMAHAMI BAHWA MENCARI SOLUSI DARI MASALAH TIDAK SELALU DENGAN UPAYA INGIN MENDAPATKAN SESUATU. TAPI JUSTRU DENGAN SEMANGAT MEMBERI. DARI MEMBERI ITULAH, KITA MENDAPATKAN SESUATU YANG KITA INGINKAN.
Tepat sekali apa yang diucapkan sang ibu kepada dua anaknya,″Penuhi lubang dengan air, ia akan memberimu bola!″.
Oleh karena itu jangan pernah letih dengan pekerjaan memberi karena dengan memberi setiap langkah kita selalu diringi dengan solusi. http://www.rumah-yatim-indonesia.org

Iri Hati Racun Kebahagiaan

″Rasa iri menggerogoti sukacita, kebahagiaan, dan kepuasan hidup seseorang sampai habis.″

Dahulu di sebuah desa, hiduplah seorang tabib yang sangat pandai mengobati orang. Namanya tabib Lie. Selain pandai mengobati, tabib Lie pun tidak pernah meminta bayaran tinggi sesuai kemampuan penduduk. Itulah sebabnya penduduk senang sekali kepadanya. Keadaan itu membuat tabib Han menjadi iri. Sebenarnya tabib Han juga pandai mengobati orang. Namun, sayang ia selalu meminta bayaran yang tinggi. Jadi penduduk desa kurang senang kepadanya.

Melihat kesuksesan tabib Lie, timbullah niat jahat di benak tabib Han. Suatu hari tabib Han menghadap  Baginda Raja Mhing. Raja Mhing terkenal sebagai penguasa yang kurang bijaksana dan cepat sekali emosi. Tabib Han pun memanfaatkan hal itu untuk mencelakan tabib Lie.

Tabib Han melaporkan kepada Baginda Raja,″Wahai Baginda yang mulia, Tabib Lie ternyata mempunyai sebutir pil umur panjang. Ia sengaja menyembunyikannya untuk dipakai sendiri.″.  ″Pil umur panjang?″ kening baginda mengerut. ″Benar yang Mulia, tabib Lie berusaha menyembunyikan pil penemuannya itu,″ kata tabib Han, berusaha membohongi Baginda.

Mendengar ada sebutir pil yang dapat membuat seseorang menjadi berumur panjang, Baginda Raja pun tertarik. Baginda Raja segera memerintahkan tabib Lie untuk menghadapnya. Tabib lie terkejut saat medengar permintaan Baginda Raja. ″Ampun, Baginda Raja. Sebenarnya hamba tidak mempunyai pil umur panjang,″ kata tabib hati-hati. Mendengar perkataan tersebut baginda pun marah,″Jangan bohong! Aku tahu kau sengaja menyembunyikan pil itu untuk kau makan sendiri. Aku tidak mau tahu. Kau harus memenuhi permintaanku. Kuberi kau waktu satu minggu. Jika kau tidak memberikan pil itu, kepalamulah taruhannya.″ Tabib Lie tidak lagi dapat berkata-kata.

Ia mengetahui ini pasi ulah tabib Han, orang yang iri dan selalu mau menyingkirkannya. Tabib Lie kembali ke rumah. Ia sangat sedih dan tidak dapat tidur nyenyak. Istirnya yang mengetahui keadaan suaminya, datang mendekatinya lalu mebisikan sesuatu kepadanya tiba-tiba saja wajah murung tabib Lie berubah ceria. Ternyata sang istri telah memberinya sebuah ide cemerlang untuk mengatasi masalahnya.

Beberapa hari berlalu. Akhirnya waktu yang ditentukan Baginda Raja telah berakhir. Tabib Han bersorak melihat keadaan tabib Lie. ″Kali ini kau pasti dapat kusingkirkan,″ pikir tabib Han.

Pagi itu tabib Lie datang menghadap Baginda Raja. ″Mana pil pesananku?″Tanya Baginda tanpa basa-basi. ″Ampun yang Mulia, sebelum hamba memberikan pil umur panjang itu, izinkan hamba menyampaikan sesuatu,″ ujar tabib Lie ″Cepat katakana,″ jawab baginda Raja tak sabar ″Pil umur panjang itu baru akan berkhasiat jika Baginda meminumnya sesuai dengan syarat-syaratnya,″ jawab tabib Lie menjelaskan.

″Syarat?″ tanya Baginda tidak mengerti

″Sebelum pil umur panjang itu Baginda minum, Baginda harus menjalani puasa selama empat puluh hari empat puluh malam,″ jelas tabib Lie

″Syarat yang aneh,″ ujar Baginda Raja. ″Tetapi baiklah aku akan melakukannya,″ lanjutnya.

Akhirnya mulai hari itu Baginda pun menjalani puasanya. Hari pertama puasa, Baginda dapat menjalaninya dengan baik tetapi memasuki hari ke-3  Baginda merasa resah. Ia tidak dapat tidur dan bekerja dengan konsentrasi karena rasa lapar yang dideritanya.

″Apa enaknya mendapatkan pil umur panjang itu kalau aku harus berpuasa sampai empat puluh hari. Mungkin sebelum aku mendapatkannya pil itu aku sudah mati kelaparan,″pikir Baginda  Tiba-tiba Baginda sadar kalau permintaanya itu aneh.″mana ada manusia yang abadi?, Setiap manusia pasti akhirnya akan meninggal juga,″kata baginda.″Alangkah bodohnya aku karena menerima laporan yang tidak masuk akal begitu saja dari tabib Han,″sesal Baginda. Akhirnya Baginda sadar bahwa tabib Han sudah membohonginya. Segera saja ia menyuruh pengawalnya menangkap tabib Han dan menjebloskannya ke dalam penjara.

Hanya sedikit orang yang memiliki sikap menghormati keberhasilan seorang teman tanpa rasa iri hati″. Rasa iri memang hanya akan merusak hati dan kehidupan seseorang. Selain menjauhkan kita dari sukacita dan damai sejahtera, iri hati Hanya akan menyengsarakan hidup. Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati dan orang bebal dimatikan oleh iri hati.

Bila meyadari bahwa tidak ada satu pun keuntungan dengan menyimpan salah satu penyakit hati itu, mengapa kita tidak berusaha menyingkirkannya? Belajarlah untuk dapat menerima kesuksesan orang lain dengan lapang dada karena terkadang kita harus mengakui bahwa ″diatas langit masih ada langit″. Atau ketika kita melihat keberhasilan seseorang, jadikanlah hal itu sebagai lecutan yang memotivasi diri agar mampu bekerja lebih maksimal lagi. Bila perlu bergaulah dengan mereka dan jalin sebuah hubungan yang baik agar kita pun bias belajar sesuatu untuk meraih sukses.

Jika mereka mampu, kita juga pasti mampu. JIKA KITA SIBUK MEMPERSIAPKAN DIRI MENJADI PRIBADI YANG SEMAKIN BAIK DARI HARI KE HARI, SAYA RASA KITA TIDAK AKAN PUNYA CUKUP WAKTU UNTUK MERASA IRI DENGAN ORANG LAIN. Bagaimana menurut Anda?

″Jangan Sesekali Kamu Iri Hati Kerana Iri Hati Menghapuskan Kebajikan Seperti Api Menghanguskan Kayu Bakar″-Riwayat Abu Dawud

Terapi Mengobati Iri hati

Iri hati adalah penyakit hati yang paling berbahaya. Dan hati tidak bisa diobati kecuali dengan ilmu dan amal. Ilmu tentang iri hati yaitu hendaknya kita ketahui bahwa iri hati sangat membahayakan kita, baik dalam hal agama maupun dunia. Dan bahwa keiri hatian itu setitikpun tidak membahayakan orang yang diirihati, baik dalam hal agama atau dunia, bahkan ia malah memetik manfaat darinya. Dan nikmat itu tidak akan hilang dari orang yang kita iri hati hanya karena keiri hatian kita.

Bahkan seandainya ada orang yang tidak beriman kepada hari Kebangkitan, tentu lebih baik baginya meninggalkan sifat iri hati daripada harus menanggung sakit hati yang berkepanjangan dengan tiada manfaat sama sekali, apatah lagi jika kemudian siksa akhirat yang sangat pedih menanti?

Bahkan kemenangan itu ada pada orang yang diiri hati, baik untuk agama maupun dunia. Dalam hal agama, orang itu teraniaya oleh Kita, apalagi jika keiri hatian itu tercermin dalam kata-kata, umpatan, penyebaran rahasia, kejelekan dan lain sebagainya. Dan balasan itu akan dijumpai di akhirat. Adapun kemenangannya di dunia adalah musuhmu bergembira karena kesedihan dan keirihatianmu itu.

Adapun amal yang bermanfaat yaitu hendaknya kita melakukan apa yang merupakan lawan dari keiri hatian. Misalnya, jika dalam jiwa kita ada iri hati kepada seseorang, hendaknya kita berusaha untuk memuji perbuatan baiknya, jika jiwa ingin sombong, hendaknya kita melawannya dengan rendah hati, jika dalam hati kita terbetik keinginan menahan nikmat pada orang lain maka hendaknya kita berdo'a agar nikmat itu ditambahkan. Dan hendaknya kita teladani perilaku orang-orang salaf yang bila mendengar ada orang iri padanya, maka mereka segera memberi hadiah kepada orang tersebut.

Dan sebagai penutup tulisan ini, ada baiknya kita renungkan kata-kata Ibnu Sirin: ″Saya tidak pernah meng-iri hati kepada seorangpun dalam urusan dunia, sebab jika dia penduduk Surga, maka bagaimana aku menghasudnya dalam urusan dunia sedangkan dia berjalan menuju Surga. Dan jika dia penduduk Neraka, bagaimana aku menghasud dalam urusan dunianya sementara dia sedang berjalan menuju ke Neraka.″

Sahabat, namun ada dua iri hati yang diperbolehkan yaitu :

Iri terhadap orang yang dikaruniai kemampuan membaca Al-Qur’an lalu ia membacanya siang dan malam hari

Iri terhadap orang yang dikaruniai Harta lalu ia mensedekahkan pada siang dan malam hari